Monday, 21 April 2014

KEMATIAN

Kehidupan” adalah perjalanan dari kotak bayi ke peti mati. Umat manusia berjalan menuju kematian sejak dari hari ia dilahirkan. Kematian menandai ditutupnya tirai dalam lakon permainan drama yang berjudul “Kehidupan”. Pada satu saat dalam hidup, Anda memusatkan perhatian pada permainan lakon Anda – mengejar pendidikan, membangun karir, membangun keluarga, atau memanjakan diri dalam kenikmatan dunia. Tetapi semua lakon permainan pasti akan berakhir. Satu hari kelak Anda akan turun dari panggung kehidupan.

1. Hukuman mati bagi semua yang berdosa

“engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:19). Ini adalah hukuman mati yang dinyatakan Allah kepada Adam dan Hawa dan seluruh umat manusia. Allah telah menyatakannya dengan sangat jelas kepada manusia pertama, “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Adam tidak mengenal maut di Taman Eden. Tetapi setelah Adam dan Hawa melakukan dosa dengan memakan buah terlarang, maut masuk ke dalam dunia. “Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya. Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi..” (Pengkhotbah 5:15-16). Maut sama pastinya dengan kehidupan.

2. Tidak ada manusia yang berkuasa atas kematian

Khayalan kehidupan kekal bukan barang baru bagi kita. Ada banyak mitos dan dongeng menceritakan umat manusia dalam pencarian mereka akan kehidupan kekal. Hari ini, ternyata kita ada dalam pencarian yang lain. Meskipun kita telah menerima –dengan tidak rela – bahwa kelak kita akan mati, kita berusaha keras memperpanjang waktu kita di bumi selama mungkin. Kita memperhatikan pola makan, berolahraga, dan mengandalkan pengobatan modern. Kita tidak menyadari bahwa tidak ada manusia yang berkuasa atas kendali kehidupan dan kematian selain Allah. Maut dapat turun menjamah Anda dengan tiba-tiba dan tidak terduga, karena di dalam tangan Allah-lah nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia (Ayub 12:10).

“Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian” (Pengkhotbah 8:8). Dunia adalah sebuah medan pertempuran tanpa akhir, dan hidup adalah peperangan yang berlarut-larut. Dalam tahun-tahun kehidupan di bumi, kita harus berjuang untuk hidup, berperang melawan bencana dan penderitaan, melawan kejahatan dan maut. Musuh kita yang paling keji adalah maut, karena belum ada manusia yang dapat menaklukannya. Orang kaya, orang perkasa, bahkan raja Salomo tidak dapat melarikan diri dari cengkeraman kematian.

3. Sejak Adam jatuh dalam dosa, semua orang mati dalam roh

Selain mati secara jasmani, kita harus menyadari adanya kematian rohani. “Kematian roh” adalah “terpisah dari kehidupan Allah”, yang berarti tidak mempunyai kehidupan rohani (Efesus 4:18). Kebalikan dari kematian tubuh jasmani yang terjadi di akhir kehidupan, kita mati dalam roh bahkan sebelum kita dilahirkan.

“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Ini berarti Adam akan mati pada hari ia memakan buah terlarang. Tetapi secara jasmani Adam tetap hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian (Kejadian 5:3-5). Ini bukan berarti firman Allah tidak digenapi, tetapi yang dimaksudkan dengan kata “pastilah engkau mati” adalah kematian roh. Begitu Adam memakan buah terlarang, roh-nya terpisah dari kehidupan Allah. Adam dan Hawa terputus dari jalan menuju pohon kehidupan – yaitu kehidupan kekal. Paulus menyebutkan kematian roh waktu ia berkata, “..semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam” (1 Korintus 15:22). Karena itulah semua keturunan Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai kehidupan rohani.

3. Sejak Adam jatuh dalam dosa, semua orang mati dalam roh
Selain mati secara jasmani, kita harus menyadari adanya kematian rohani. “Kematian roh” adalah “terpisah dari kehidupan Allah”, yang berarti tidak mempunyai kehidupan rohani (Efesus 4:18). Kebalikan dari kematian tubuh jasmani yang terjadi di akhir kehidupan, kita mati dalam roh bahkan sebelum kita dilahirkan.
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Ini berarti Adam akan mati pada hari ia memakan buah terlarang. Tetapi secara jasmani Adam tetap hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian (Kejadian 5:3-5). Ini bukan berarti firman Allah tidak digenapi, tetapi yang dimaksudkan dengan kata “pastilah engkau mati” adalah kematian roh. Begitu Adam memakan buah terlarang, roh-nya terpisah dari kehidupan Allah. Adam dan Hawa terputus dari jalan menuju pohon kehidupan – yaitu kehidupan kekal. Paulus menyebutkan kematian roh waktu ia berkata, “..semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam” (1 Korintus 15:22). Karena itulah semua keturunan Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai kehidupan rohani.

“Sengat maut adalah dosa” (1 Korintus 15:56). Maut menggunakan sengat dosa untuk mengikat semua orang berdosa dalam dunia, sehingga mereka tidak dapat mengalahkan dosa dan tidak mampu menaklukkan maut. Mereka ditakdirkan mati begitu mereka dilahirkan. Mereka tidak hanya mati rohani karena Adam, tetapi kehidupan jasmani mereka juga pasti berakhir. “Upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12)


AKIBAT DOSA

Sebagai warga negara sebuah negara, kita berada di bawah peraturan hukum dan undang-undang negara kita. Peraturan-peraturan ini membantu menegakkan ketertiban sosial dan menghukum mereka yang melanggarnya. Begitu pula kita adalah ciptaan Allah dan tunduk pada wewenang-Nya. Untuk menjaga keteraturan alam semesta, Allah menetapkan hukum-Nya yang sepatutnya dipatuhi oleh seluruh ciptaanNya. Matahari, bulan dan seluruh jagat raya mengikuti urutan alami yang telah ditetapkan Allah. Tetapi Adam dan Hawa memilih melanggar satu-satunya hukum yang diberikan Allah kepada mereka. Bukannya taat kepada Allah, mereka tergoda oleh ketinggian hati, ingin menjadi seberhikmat Allah – mengetahui baik dan jahat. Sebagai akibatnya, Mereka kehilangan hak istimewa tinggal di dalam Taman Eden dan harus menerima hukuman.

Adam dan Hawa tidak hanya menerima hukuman atas kesalahan mereka, tetapi sifat dosa mereka juga diwariskan kepada anak-anak dan seluruh keturunan mereka. Karena itulah Allah memandang seluruh manusia sebagai orang-orang berdosa, dan tidak ada yang tidak bersalah di hadapanNya (Roma 3:23; Galatia 3:22). Dicatat dalam Alkitab, penguasa seluruh alam semesta adalah Allah yang adil. Hakim yang adil ini tidak akan membiarkan orang yang bersalah terlepas dari hukuman (Nahum 1:3), dan akan membalas setiap orang sesuai dengan apa yang telah ia perbuat (Roma 2:6). Tidak ada orang yang dapat melarikan diri dari pertanggungjawaban dosa.

Berikut ini adalah ganjaran yang diberikan Allah atas dosa di dunia:

  • Menderita sengsara dalam kehidupan di dunia 
  • Kematian 
  • Kehancuran dunia 
  • Penghakiman setelah kematian

Kekayaan materi tidak dapat menghapus kesusahan dunia

Alkitab mencatatkan bahwa tidak ada orang dalam sejarah manusia yang mempunyai status, hikmat, pengetahuan, kekayaan dan kesukaan melebihi Salomo, dan tidak akan ada lagi orang yang seperti dia di masa yang akan datang. Walaupun Salomo mempunyai seluruh kemewahan dunia, ia mengakui Allah telah memberikan beban berat kepada manusia. Salomo berkata, “aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun” (Pengkhotbah 2:10). Kita menganggap raja Salomo sebagai orang paling berbahagia di bumi. Sebaliknya, ia meratap, “ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari” (Pengkhotbah 2:11). Kenikmatan materi tidak dapat menghilangkan kesusahan dunia.

“...kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan” (Mazmur 90:10). “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan” (Ayub 14:1). Sungguh hidup adalah susah payah dan sengsara terus menerus, dan penderitaan besar selalu muncul seperti semak dan duri yang terus tumbuh lagi dan lagi secepat mereka dicerabut. Semua ini adalah akibat dari dosa manusia, karena tanah yang kita pijak ini terkutuk (Kejadian 3:17-18; 5:29).









KUASA DOSA

Kelemahan kita terhadap dosa tampak pada apa yang kita alami sehari-hari. Kita sering bermaksud memberikan lebih banyak persembahan dan waktu untuk mereka yang memerlukan atau membagikan kabar injil kepada kerabat kita. Namun akhirnya kita bahkan tidak mampu melakukan kebaikan yang paling kecil. Di waktu yang sama, kita membela diri dan mencari pembenaran ketika melakukan tindakan-tindakan amoral yang tidak kita anggap “dosa”. Bukankah kita adalah “tuan” atas pikiran dan tindakan kita? Bila kita menyadari perbedaan antara baik dan jahat, lalu mengapa kita seringkali tidak mampu memilih yang baik? Ini karena kita tidak dapat menang menghadapi kuasa dosa!

A. Kekuatan Kuasa Dosa

1. Dosa berkuasa atas umat manusia

Dalam suratnya untuk jemaat Roma, rasul Paulus menjelaskan kekuatan kuasa dosa, dan juga kelemahan dan kesengsaraannya saat berada dalam kuasa dosa. Ia berkata, “di dalam batinku aku suka akan hukum Allah” (Roma 7:22). Kesukaan ini mencerminkan kebutuhan batinnya. Namun sebuah konflik batin timbul, “apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Roma 7:15). Dalam hatinya Paulus ingin melakukan yang baik, tetapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Ia meneliti dan ternyata selain kesadarannya, ada kekuatan dosa di dalam dirinya yang mencegahnya melakukan hal yang baik (Roma 7:23).

2. Dosa membelenggu manusia

Dari surat-suratnya, kita dapat membayangkan Paulus adalah seperti tentara Kristus yang memenuhi tugas penginjilan walaupun hidupnya terus menerus terancam. Orang-orang Kristen memandang tinggi Paulus sebagai teladan. Banyak tempat menggunakan namanya sebagai penghormatan. Namun dari pengakuannya dalam suratnya kepada jemaat Roma, Paulus ternyata tidak berbeda dengan kita yang seringkali bergumul dengan dosa. Mengapa kuasa dosa sangat kuat? Paulus menyatakan bahwa ia bersifat daging dan terjual sebagai budak dosa (Roma 7:14). Ia juga mengatakan kuasa kedagingannya mengalahkan dirinya sendiri (kesadarannya), yang membuatnya terbelenggu oleh kuasa dosa (Roma 7:23). Ia tidak dapat melakukan kebaikan seperti yang ia inginkan, tetapi melakukan yang jahat yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan. Bukannya ia tidak mau melakukan yang baik, tetapi kesungguhannya kalah melawan keinginan dagingnya. Ia melakukan yang jahat bukan karena kehendak hatinya, tetapi karena dosa yang tinggal di dalam dia (Roma 7:17, 20). “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (Roma 7:21). Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita betapa kuasa dosa membuat manusia tidak berdaya. Kesaksian Paulus menggambarkan keadaan kita, dan suka dukanya tercermin dalam hati kita. Mereka yang sungguh-sungguh berusaha melakukan yang baik akan mengerti bahwa mereka tidak berdaya melawan kuasa dosa. Di akhir kesaksiannya, Paulus berteriak dalam keputusasaan, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24)

3. Dosa menciptakan kekacauan di dunia

Dosa berkuasa di dunia dan merusak umat manusia sekehendak hatinya. Pertama-tama ia menyerang pribadi manusia, lalu keluarganya, lalu masyarakat di sekitarnya, dan akhirnya, seluruh dunia. Secara pribadi, dosa menghalangi kita melakukan kebaikan seperti yang kita inginkan, dan membalikkan kita melakukan yang jahat. (Roma 7:15,19). Bila dosa berkuasa atas setiap anggota keluarga, perselisihan akan terjadi dalam keluarga. Dalam skala yang besar, tidak akan ada damai di bumi selama dosa berkuasa atas umat manusia.
Sejarah menunjukkan tidak pernah ada damai di dunia sejak kelahiran bangsa-bangsa. Perang terus terjadi di antara bangsa dan negara. Dalam sebagian peperangan ini, kita telah melihat banyak pembantaian tidak masuk akal dilakukan umat manusia. Mengapa kita bukannya menolong sesama manusia, tetapi malah saling menghancurkan? Mengapa ada banyak perseteruan, pertikaian, kebencian, perkelahian, pembunuhan, kekerasan dan perang? Semua ini disebabkan oleh dosa.

B. Setiap Orang Jatuh ke Dalam Dosa

Apa yang telah kita pelajari sejauh ini adalah kita telah menjadi hamba dosa karena dosa berkuasa dalam hati kita. (Roma 5:21 7:23). Pada akhirnya dosa mengendalikan dan memperbudak kita semua (Roma 7:14, 18-20; Yohanes 8:34).

1. Dosa menjatuhkan semua orang

Tuhan Yesus berkata, “Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik” (Matius 7:18). Sebuah pohon tidak mungkin mengubah sifat alaminya. Begitu juga kita melakukan dosa karena kita tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah kecenderungan alami kita yang bersifat jahat. Betapa menyedihkannya kita yang tidak dapat berpaling dari dosa! Dosa seperti jurang yang dalam dan umat manusia terperosok dengan pasrah ke dalamnya. Tidak ada yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi orang lain.

2. Menurut standar Alkitab, semua manusia berdosa

Seseorang dapat bertanya, “perbuatan jahat seperti apa yang digolongkan sebagai dosa?” Dosa adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum Allah, atau ketidakberadaan hukum (1 Yohanes 3:4). Hukum Allah adalah Sepuluh Hukum: Jangan menyembah allah lain; jangan membuat berhala; jangan menyebut sembarangan nama Allah; ingat dan menguduskan hari Sabat; menghormati orangtua; jangan membunuh; jangan berzinah; jangan mencuri; jangan berbohong; jangan mengingini milik orang lain (Keluaran 20:3-17). Dengan standar ini saja, dapatkah seseorang dengan jujur mengakui mereka tidak bersalah dari pelanggaran hukum-hukum Allah?

Ketika Yesus Kristus datang mengajarkan firman Allah, Ia menaikkan standar yang telah ditetapkan kepada manusia. Pertama, Tuhan Yesus menyatakan sudut pandang-Nya mengenai Sepuluh Hukum. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17). Lebih lanjut Yesus mengatakan harapannya atas murid-murid-Nya, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum...” (Matius 5:21,22). Demikian pula Yesus menunjukkan bila seorang laki-laki memandang perempuan dengan hawa nafsu, ia telah berzinah dengan perempuan itu dalam hatinya (Matius 5:28). Dengan demikian Yesus menaikkan standar dengan meminta kita juga memegang hukum-Nya dalam hati, tidak hanya terbatas tindakan fisik sebuah dosa.

Selain Yesus Kristus, tidak ada orang lain di dunia yang tidak berbuat dosa dan tak bercacat cela. Dengan standar hukum undang-undang sebuah bangsa, mungkin kita warna negara yang taat hukum dan tidak pernah melanggarnya. Tetapi dengan standar firman Allah, seluruh dunia ini berada dalam kurungan dosa, dan kita semua adalah pelanggar-pelanggar hukum Allah (Galatia 3:22).

3. Manusia jatuh ke dalam berbagai bentuk dosa

Selain Sepuluh Hukum, kita tahu ada beberapa perbuatan lain yang dapat membangkitkan murka Allah. Paulus membicarakan mengenai murka Allah yang turun ke atas orang-orang fasik dan lalim, yang menindas kebenaran dengan kelaliman (Roma 1:18). Keinginan hawa nafsu dalam hati mereka membawa mereka ke dalam kecemaran seksual, seperti homoseksualitas (Roma 1:24, 26, 27). Lebih jauh lagi, “karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah”, pikiran mereka yang terkutuk menyeret mereka melakukan apa yang tidak sepatutnya dilakukan.

mereka melakukan apa yang tidak pantas:
penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. (Roma 1:29-31)

Dapat kita lihat pada ayat di atas betapa setiap hari hati kita penuh dengan pikiran yang jahat. Hal-hal sepele yang kita lakukan setiap hari – arogansi, kesombongan, bahkan juga gosip – juga digolongkan sebagai dosa. Terlepas dari Sepuluh Hukum, masih dapatkah kita mengakui diri kita belum pernah melakukan hal-hal seperti itu?

4. Manusia jatuh ke dalam dosa karena tidak mengenal Allah

Kita patut memperhatikan alasan yang ditekankan Paulus mengapa dosa ditimbulkan, adalah karena “tidak berusaha mengenal Allah”: “karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas” (Roma 1:28). Pemikiran yang berlaku di dunia ini adalah: bila tidak ada Tuhan, tidak ada hukuman untuk perbuatan dosa; dan bila tidak ada hukuman, manusia boleh melakukan apa saja tanpa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bentuk pemikiran seperti ini adalah apa yang disarankan filosofis Perancis Jean Paul Sartre. Ia beralasan bila Tuhan itu tidak ada, maka segala sesuatu boleh dilakukan.

Dalam kitab Mazmurnya raja Daud juga menyebutkan orang fasik melakukan kejahatan tanpa merasa berat hati karena mereka tidak mengenal Allah. Daud berkata, “Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: "Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!" ... Ia berkata dalam hatinya: "Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun."” (Mazmur 10:4, 6). “Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Mazmur 14:1).

5. Tidak menyembah Allah yang benar adalah jalan menuju dosa

Apakah dosa yang paling berat di dunia? Mencuri, berzinah, bersaksi dusta atau membunuh? Dosa yang paling berat adalah tidak menyembah Allah yang benar. Seperti yang telah dijelaskan Paulus, sumber segala dosa berasal dari penyangkalan akan adanya Allah. Bila umat manusia tidak mengakui Allah, maka mereka tidak dapat percaya dengan penghakiman Allah. Mereka akan berlaku sesuka mereka walaupun akibat perbuatan mereka dapat melukai orang lain. Maka kita dapat melihat hubungan yang dekat antara menyangkal keberadaan Allah dengan dosa.

Dalam Alkitab dicatat, “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13). Mengapa takut akan Allah dan memegang perintah-perintah-Nya adalah tugas kita? Itu menjadi tugas kita karena Allah menciptakan kita, dan Dia adalah Bapa seluruh umat manusia. Kita dapat mengambil contoh hubungan alami antara orangtua dengan anak. Sebagai orangtua, kita mengasuh dan memelihara anak kita dengan cinta kasih. Kita berharap anak kita menghormati dan taat kepada kita. Karena itu bila anak kita memberontak, menyangkal atau tidak menghormati kita, kita merasa sakit hati dan kecewa. Anak bebek saja menyahut dan mengikuti panggilan induknya. Maka terlebih lagi kita harus mendengarkan suara Orangtua kita.

“..takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”
(Pengkhotbah 12:13)










Jatuh Karena Dosa

Apa itu dosa? Apakah kita berdosa walaupun kita belum pernah berbuat sesuatu yang tidak benar? Sadarkah kita saat melakukan dosa? Apakah pengaruh dosa kepada kita? Darimana dosa berasal? Apakah kekuatan dosa? Apakah akibat dari dosa?

Banyak di antara kita mengerti akan makna dosa. Kata “dosa” mempunyai konotasi negatif yang kita hindari seperti penyakit kusta. Dalam arti sebenarnya, dosa adalah melawan hukum Allah dan tidak mencapai standar yang Allah gariskan. Umat manusia kehilangan kasih karunia Allah karena dosa. Menurut Alkitab, tidak hanya manusia pertama yang berdosa, tetapi semua yang datang ke dunia kemudian juga mewarisi dosa itu. Selain Tuhan kita Yesus Kristus (dibahas di bagian tiga), kita semua membawa dosa asal. Kita berdosa terlepas dari seberapa “baik”nya kita menurut standar dunia.

Mengapa kita perlu mempelajari dosa? Karena kita ada di dalam pertempuran rohani setiap hari. Jiwa kita senantiasa berada dalam bahaya. Dengan mengenal sifat sesungguhnya dari musuh kita bersama, kita dapat mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai musuh kita, sehingga kita dapat melengkapi diri kita lebih baik dengan senjata rohani yang tepat.

Bila kita membicarakan dosa, kita harus membicarakannya dalam hubungannya dengan perintah Allah.
Setelah membaca bagian ini, jangan Anda tenggelam ke dalam kengerian dan keputusasaan – masih ada harapan! Jangan biarkan bayangan dosa mengancam Anda karena kita tahu kita dapat mengalahkan dosa melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang melawan dosa. Anda dapat menemukan jawaban-jawaban bagaimana mendapatkan kemerdekaan dari belenggu dosa, dan mendapatkan harapan kehidupan kekal dalam bagian ketiga dan keempat – “Percaya Kepada Yesus” dan “Kembali ke Gereja Sejati”.

Sumber Dosa

Di masa lalu, nenek moyang kita Adam dan Hawa tinggal di taman Eden. Taman Eden adalah taman yang sangat indah, taman yang disediakan oleh Allah, pencipta dan pemelihara alam semesta. Allah mempercayakan taman Eden kepada Adam disertai dengan sebuah perintah kepadanya: jangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Allah memperingatkan akan akibat yang harus ditanggung bila melanggar perintah ini. Allah menyediakan seorang penolong bagi Adam yaitu Hawa, agar mereka dapat bersama-sama berkuasa atas seluruh ciptaan Allah. Namun pada suatu hari Adam dan Hawa jatuh ke dalam cobaan dan makan buah terlarang itu.

Ini adalah kelahiran sejarah manusia, menandai sumber dosa dan sumber segala kejahatan, dan permulaan dari kehancuran dunia.

A. Leluhur Kita Jatuh Dalam Dosa

1. Adam dan Hawa melanggar perintah Allah

Allah memberi perintah kepada Adam, nenek moyang umat manusia, ”semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan baik dan jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17). Awalnya, perintah ini adalah perintah satu-satunya yang harus dijalankan oleh manusia. Allah menetapkan perintah ini untuk menegakkan keteraturan alam semesta. Allah yang menjadikan bumi dan segala isinya adalah Allah atas langit dan bumi (Kejadian 17:24). Ia menciptakan manusia dan memelihara mereka (Kisah Para Rasul 17:26,28). Karena itu manusia harus memegang perintah yang telah Allah berikan, seperti langit juga menaati perintahNya (Mazmur 103:19-22). Namun Adam dan Hawa mendengarkan godaan Iblis, memberontak melawan perintah Allah dan memakan buah terlarang (Kejadian 3:1-6). Karena pelanggaran ini, nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa.

2. Adam dan Hawa tidak menaati perintah Allah

Seseorang mungkin bertanya, “mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan baik dan jahat? Bila Ia tidak menciptakannya, Adam dan Hawa mungkin tidak jatuh ke dalam dosa.” Kita dapat berasumsi sumber kejatuhan Adam dan Hawa berasal dari pohon itu. Tetapi sumber dosa yang paling mendasar berasal dari keengganan manusia mematuhi perintah Allah. Bila Adam dan Hawa mau patuh kepada Allah, mereka akan menahan diri dan tidak memakan buah terlarang. Sebaliknya, bila mereka bersikap membangkang melawan kehendak Allah, mereka akan jatuh dalam dosa lain selain memakan buah terlarang. Paulus menulis, “hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, ...dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat” (1 Timotius 1:9-10).

3. Adam dan Hawa menuruti keinginan hawa nafsu

Allah berkata, “Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu” (Kejadian 1:29). “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas” (Kejadian 2:16). Dari dua ayat ini, tampak jelas Adam dan Hawa mendapatkan cukup makanan. Mereka tidak membutuhkan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka memakan buah terlarang itu bukan karena suatu kebutuhan, tetapi karena keinginan hawa nafsu. “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya” (Kejadian 3:6). Alkitab menjelaskan bagaimana Adam dan Hawa tidak dapat menyalahkan siapa-siapa atas pelanggaran ini selain mereka sendiri. “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa...” (Yakobus 1:14, 15).

B. Dosa Memasuki Dunia

Bagaimana dosa Adam mempengaruhi kita? Alkitab mengatakan “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang ... karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).
“Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang” (Roma 5:12)

1. Dosa masuk ke dalam dunia

karena satu orang
Yang dimaksud ”satu orang” di sini adalah Adam. Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, belum ada dosa di dunia. Ketika Adam jatuh, dosa masuk ke dalam dunia dan menjadi bagian dari sifat manusia. Keturunan Adam mewarisi kecenderungan dosa ini dan dosa mulai mendominasi hati umat manusia (Roma 5:12). Karena itulah “semua orang telah berbuat dosa”.
Dalam hukum genetika, kita tahu sifat-sifat dari binatang dan tanaman diwariskan kepada keturunannya. Tipe yang baik, begitu juga yang buruk, akan diturunkan ke generasi berikutnya. Contohnya, generasi kedua dari pohon anggur yang asam akan sama asamnya. Seperti itu pula, begitu Adam dan Hawa berbuat dosa, sifat dosa mereka diturunkan kepada keturunan mereka, dan dengan cara inilah dosa masuk ke dalam dunia.

2. Manusia berdosa sejak dilahirkan

Alkitab lebih jauh menggambarkan sifat warisan dosa dengan menjelaskan tahap-tahap awal pertumbuhan manusia: dalam kandungan, kelahiran, dan masa kecil.
“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7)

“Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.”
(Mazmur 58:4)

“...yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya.” (Kejadian 8:21)

Kita tidak perlu menunggu sampai dewasa untuk mengenal dosa. Kita sudah terjerat dalam pikiran-pikiran yang jahat sejak masa muda dan tersesat dari sejak hari kita dilahirkan. Perbedaannya terdapat pada keseriusan dosa yang dilakukan orang dewasa dan anak-anak. Dosa-dosa yang dilakukan orang dewasa lebih besar dan rumit karena pengertian, pengetahuan dan pengalaman mereka lebih tinggi, sementara dosa-dosa yang dilakukan anak-anak tampak lebih polos karena mereka belum matang dalam segala hal. Walaupun demikian, dosa tetaplah dosa, entah itu besar atau kecil. Ini lebih jauh menunjukkan sifat dosa yang turun-temurun. Dosa yang diperbuat Adam dan Hawa melemparkan umat manusia ke dalam jurang yang dalam tanpa ada harapan akan penebusan.













Sunday, 20 April 2014

Menyembah-Nya dalam roh

... Bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Tuhan itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. (Yohanes 4:23-24)

Ayat Alkitab di atas memberitahu kita bahwa Allah yang sejati menghendaki kita menyembah Dia dalam roh dan bukan dengan kemenyan, lilin, buah-buahan, daging, kue atau benda-benda pengorbanan lain. Manusia di dunia memiliki tubuh jasmani dan membutuhkan makanan untuk mempertahankan hidup mereka. Sedangkan Allah yang sejati adalah Roh yang tidak perlu memerlukan makan. Dan seandainya Ia membutuhkan makanan pun, Ia tidak perlu meminta manusia untuk memberi-Nya makan.
Allah berfirman melalui pemazmur:

Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. Jika Aku lapar tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.
(Mazmur 50:10-12)

Paulus mengatakan kata-kata yang tidak jauh berbeda kepada orang-orang Atena:
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak akan diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
(Kisah Para Rasul 17:24-25)

Janganlah kita tertipu dan mempercayai bahwa kita harus mempersembahkan benda-benda tertentu untuk dapat memperoleh perkenanan Allah. Allah ada di mana-mana (maha hadir); Allah mengetahui segala sesuatu (maha tahu); Allah mampu melakukan segala sesuatu (maha kuasa); karena itu, Ia mengetahui hati kita. Yang diminta Allah dari kita adalah agar kita menyembah-Nya dengan hati yang tulus dan mempersembahkan doa dalam roh.

Allah yang maha kuasa

4000 tahun yang lalu, Allah yang sejati menampakkan diri kepada Abraham, bapa leluhur orang Israel, dan berfirman kepadanya, “Akulah Allah yang Mahakuasa” (Kejadian 17:1).

Ayub juga membicarakan tentang kemahakuasaan Allah, “Aku tahu, bahwa Engkau (Allah) sanggup melakukan segala sesuatu” (Ayub 42:2). Akan tetapi, karena Iblis ingin membujuk kita meninggalkan Allah yang sejati, maka ia seringkali melakukan tanda-tanda mujizat melalui patung-patung berhala (tuhan-tuhan palsu).

Meskipun demikian, kuasa Iblis terbatas dan tidak akan dapat mengalahkan Allah yang sejati. Beberapa contoh berikut ini dimaksudkan untuk memberikan sedikit gambaran tentang hal ini:


  • 3600 tahun yang lalu, Allah yang sejati memilih Musa untuk memimpin orang Israel keluar dari Mesir. Allah menghendaki Firaun tahu bahwa Ia menyertai Musa. Ia memerintahkan Musa mengubah tongkat yang dipegang kakaknya, Harun, menjadi ular di depan mata Firaun. Firaun segera memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihirnya untuk melakukan hal yang sama, tetapi tongkat Harun menelan semua tongkat mereka (Keluaran 7:8-12).
  • 2900 tahun yang lalu, orang-orang Israel mengikuti raja Ahab menyembah patung Baal. Allah yang sejati mengutus nabi Elia untuk menemui Ahab. Elia mengumpulkan orang-orang Israel dan nabi-nabi Baal di gunung Karmel untuk membuktikan yang manakah Allah yang sejati. Untuk membuktikannya, baik Elia dan nabi-nabi palsu harus menyembelih seekor lembu jantan, memotong-motongnya, meletakkannya di atas mezbah dan masing-masing memanggil “tuhan”nya. “Tuhan” yang menjawab dengan api, dialah Allah yang sejati. Dari pagi hingga malam, nabi-nabi Baal memanggil-manggil dan melakukan ritual mereka; mereka bahkan menoreh-noreh diri sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Namun tidak terjadi apa-apa. Ketika Elia berdoa, turunlah api dari Allah yang sejati dan menyambar habis seluruh korban bakaran. Ketika semua orang melihatnya, sujudlah mereka dan berkata, “TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!” (1Raj. 18:17-39).
  • 1900 tahun yang lalu, seseorang bernama Simon membuat takjub bangsa Samaria dengan ilmu sihirnya. Ketika Filipus, seorang murid Tuhan, memberitakan Injil di sana, Allah melakukan banyak tanda-tanda heran melalui dirinya, agar orang-orang yang percaya kepada Kristus mendapatkan kesembuhan dari penyakit mereka. Orang banyak yang semula begitu takjub kepada Simon, kini meninggalkannya dan percaya kepada Injil yang diberitakan Filipus. Bahkan Simon sendiri akhirnya menjadi percaya dan mengikuti Filipus (Kisah Para Rasul 8:9-13).
Oleh sebab itu kita harus berhati-hati dengan banyak “agama” yang hari ini begitu menonjolkan kuasa ajaib. Ilmu sihir manusia, patung berhala, atau roh-roh jahat, semua dapat melakukan “tanda-tanda mujizat” yang memukau. Akan tetapi kita harus menguji sumber kuasa-kuasa ini dan juga niat di balik tanda mujizat tersebut. Kuasa Allah jauh lebih besar daripada segala kehidupan di dunia dan juga di alam semesta. Maksud dari penyataan kuasa-Nya adalah untuk memimpin manusia percaya kepada-Nya dan menerima keselamatan.

Allah yang memenuhi alam semesta

“Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN,
dan bukan Allah yang dari jauh juga?” (Yeremia 23:23)

Raja Daud juga membicarakan ke-mahahadiran Allah, yaitu kemampuan-Nya untuk hadir di segala tempat pada waktu yang sama:
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, Ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; Jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau; Jika aku terbang dengan sayap fajar dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.”
(Mazmur 139:7-10)

Karena itu, Allah yang sejati, yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, adalah Allah yang memenuhi alam semesta (Efesus 1:23; Yeremia 23:24). Ia berfirman, “Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?” (Yesaya 66:1). Demikian pula, ketika Paulus berada di Atena, ibukota Yunani, ia memberitahu orang-orang Atena bahwa “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya. Ia, yang adalah Allah atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia” (Kisah Para Rasul 17:24).

Ayat-ayat Alkitab di atas memberi kesimpulan bahwa tuhan-tuhan yang berada di kuil duniawi bukanlah Allah yang sejati. Patung-patung berhala buatan manusia tidak dapat memberi berkat ataupun kutuk, dan mereka tidak patut disembah. Kita tidak sepatutnya memuja mereka.
Allah yang sejati itu maha hadir; Ia tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Karena itu kita dapat menyembah-Nya di mana saja, kapan saja.