Monday, 21 April 2014

KEMATIAN

Kehidupan” adalah perjalanan dari kotak bayi ke peti mati. Umat manusia berjalan menuju kematian sejak dari hari ia dilahirkan. Kematian menandai ditutupnya tirai dalam lakon permainan drama yang berjudul “Kehidupan”. Pada satu saat dalam hidup, Anda memusatkan perhatian pada permainan lakon Anda – mengejar pendidikan, membangun karir, membangun keluarga, atau memanjakan diri dalam kenikmatan dunia. Tetapi semua lakon permainan pasti akan berakhir. Satu hari kelak Anda akan turun dari panggung kehidupan.

1. Hukuman mati bagi semua yang berdosa

“engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:19). Ini adalah hukuman mati yang dinyatakan Allah kepada Adam dan Hawa dan seluruh umat manusia. Allah telah menyatakannya dengan sangat jelas kepada manusia pertama, “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Adam tidak mengenal maut di Taman Eden. Tetapi setelah Adam dan Hawa melakukan dosa dengan memakan buah terlarang, maut masuk ke dalam dunia. “Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya. Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi..” (Pengkhotbah 5:15-16). Maut sama pastinya dengan kehidupan.

2. Tidak ada manusia yang berkuasa atas kematian

Khayalan kehidupan kekal bukan barang baru bagi kita. Ada banyak mitos dan dongeng menceritakan umat manusia dalam pencarian mereka akan kehidupan kekal. Hari ini, ternyata kita ada dalam pencarian yang lain. Meskipun kita telah menerima –dengan tidak rela – bahwa kelak kita akan mati, kita berusaha keras memperpanjang waktu kita di bumi selama mungkin. Kita memperhatikan pola makan, berolahraga, dan mengandalkan pengobatan modern. Kita tidak menyadari bahwa tidak ada manusia yang berkuasa atas kendali kehidupan dan kematian selain Allah. Maut dapat turun menjamah Anda dengan tiba-tiba dan tidak terduga, karena di dalam tangan Allah-lah nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia (Ayub 12:10).

“Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian” (Pengkhotbah 8:8). Dunia adalah sebuah medan pertempuran tanpa akhir, dan hidup adalah peperangan yang berlarut-larut. Dalam tahun-tahun kehidupan di bumi, kita harus berjuang untuk hidup, berperang melawan bencana dan penderitaan, melawan kejahatan dan maut. Musuh kita yang paling keji adalah maut, karena belum ada manusia yang dapat menaklukannya. Orang kaya, orang perkasa, bahkan raja Salomo tidak dapat melarikan diri dari cengkeraman kematian.

3. Sejak Adam jatuh dalam dosa, semua orang mati dalam roh

Selain mati secara jasmani, kita harus menyadari adanya kematian rohani. “Kematian roh” adalah “terpisah dari kehidupan Allah”, yang berarti tidak mempunyai kehidupan rohani (Efesus 4:18). Kebalikan dari kematian tubuh jasmani yang terjadi di akhir kehidupan, kita mati dalam roh bahkan sebelum kita dilahirkan.

“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Ini berarti Adam akan mati pada hari ia memakan buah terlarang. Tetapi secara jasmani Adam tetap hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian (Kejadian 5:3-5). Ini bukan berarti firman Allah tidak digenapi, tetapi yang dimaksudkan dengan kata “pastilah engkau mati” adalah kematian roh. Begitu Adam memakan buah terlarang, roh-nya terpisah dari kehidupan Allah. Adam dan Hawa terputus dari jalan menuju pohon kehidupan – yaitu kehidupan kekal. Paulus menyebutkan kematian roh waktu ia berkata, “..semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam” (1 Korintus 15:22). Karena itulah semua keturunan Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai kehidupan rohani.

3. Sejak Adam jatuh dalam dosa, semua orang mati dalam roh
Selain mati secara jasmani, kita harus menyadari adanya kematian rohani. “Kematian roh” adalah “terpisah dari kehidupan Allah”, yang berarti tidak mempunyai kehidupan rohani (Efesus 4:18). Kebalikan dari kematian tubuh jasmani yang terjadi di akhir kehidupan, kita mati dalam roh bahkan sebelum kita dilahirkan.
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Ini berarti Adam akan mati pada hari ia memakan buah terlarang. Tetapi secara jasmani Adam tetap hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian (Kejadian 5:3-5). Ini bukan berarti firman Allah tidak digenapi, tetapi yang dimaksudkan dengan kata “pastilah engkau mati” adalah kematian roh. Begitu Adam memakan buah terlarang, roh-nya terpisah dari kehidupan Allah. Adam dan Hawa terputus dari jalan menuju pohon kehidupan – yaitu kehidupan kekal. Paulus menyebutkan kematian roh waktu ia berkata, “..semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam” (1 Korintus 15:22). Karena itulah semua keturunan Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai kehidupan rohani.

“Sengat maut adalah dosa” (1 Korintus 15:56). Maut menggunakan sengat dosa untuk mengikat semua orang berdosa dalam dunia, sehingga mereka tidak dapat mengalahkan dosa dan tidak mampu menaklukkan maut. Mereka ditakdirkan mati begitu mereka dilahirkan. Mereka tidak hanya mati rohani karena Adam, tetapi kehidupan jasmani mereka juga pasti berakhir. “Upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12)


AKIBAT DOSA

Sebagai warga negara sebuah negara, kita berada di bawah peraturan hukum dan undang-undang negara kita. Peraturan-peraturan ini membantu menegakkan ketertiban sosial dan menghukum mereka yang melanggarnya. Begitu pula kita adalah ciptaan Allah dan tunduk pada wewenang-Nya. Untuk menjaga keteraturan alam semesta, Allah menetapkan hukum-Nya yang sepatutnya dipatuhi oleh seluruh ciptaanNya. Matahari, bulan dan seluruh jagat raya mengikuti urutan alami yang telah ditetapkan Allah. Tetapi Adam dan Hawa memilih melanggar satu-satunya hukum yang diberikan Allah kepada mereka. Bukannya taat kepada Allah, mereka tergoda oleh ketinggian hati, ingin menjadi seberhikmat Allah – mengetahui baik dan jahat. Sebagai akibatnya, Mereka kehilangan hak istimewa tinggal di dalam Taman Eden dan harus menerima hukuman.

Adam dan Hawa tidak hanya menerima hukuman atas kesalahan mereka, tetapi sifat dosa mereka juga diwariskan kepada anak-anak dan seluruh keturunan mereka. Karena itulah Allah memandang seluruh manusia sebagai orang-orang berdosa, dan tidak ada yang tidak bersalah di hadapanNya (Roma 3:23; Galatia 3:22). Dicatat dalam Alkitab, penguasa seluruh alam semesta adalah Allah yang adil. Hakim yang adil ini tidak akan membiarkan orang yang bersalah terlepas dari hukuman (Nahum 1:3), dan akan membalas setiap orang sesuai dengan apa yang telah ia perbuat (Roma 2:6). Tidak ada orang yang dapat melarikan diri dari pertanggungjawaban dosa.

Berikut ini adalah ganjaran yang diberikan Allah atas dosa di dunia:

  • Menderita sengsara dalam kehidupan di dunia 
  • Kematian 
  • Kehancuran dunia 
  • Penghakiman setelah kematian

Kekayaan materi tidak dapat menghapus kesusahan dunia

Alkitab mencatatkan bahwa tidak ada orang dalam sejarah manusia yang mempunyai status, hikmat, pengetahuan, kekayaan dan kesukaan melebihi Salomo, dan tidak akan ada lagi orang yang seperti dia di masa yang akan datang. Walaupun Salomo mempunyai seluruh kemewahan dunia, ia mengakui Allah telah memberikan beban berat kepada manusia. Salomo berkata, “aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun” (Pengkhotbah 2:10). Kita menganggap raja Salomo sebagai orang paling berbahagia di bumi. Sebaliknya, ia meratap, “ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari” (Pengkhotbah 2:11). Kenikmatan materi tidak dapat menghilangkan kesusahan dunia.

“...kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan” (Mazmur 90:10). “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan” (Ayub 14:1). Sungguh hidup adalah susah payah dan sengsara terus menerus, dan penderitaan besar selalu muncul seperti semak dan duri yang terus tumbuh lagi dan lagi secepat mereka dicerabut. Semua ini adalah akibat dari dosa manusia, karena tanah yang kita pijak ini terkutuk (Kejadian 3:17-18; 5:29).









KUASA DOSA

Kelemahan kita terhadap dosa tampak pada apa yang kita alami sehari-hari. Kita sering bermaksud memberikan lebih banyak persembahan dan waktu untuk mereka yang memerlukan atau membagikan kabar injil kepada kerabat kita. Namun akhirnya kita bahkan tidak mampu melakukan kebaikan yang paling kecil. Di waktu yang sama, kita membela diri dan mencari pembenaran ketika melakukan tindakan-tindakan amoral yang tidak kita anggap “dosa”. Bukankah kita adalah “tuan” atas pikiran dan tindakan kita? Bila kita menyadari perbedaan antara baik dan jahat, lalu mengapa kita seringkali tidak mampu memilih yang baik? Ini karena kita tidak dapat menang menghadapi kuasa dosa!

A. Kekuatan Kuasa Dosa

1. Dosa berkuasa atas umat manusia

Dalam suratnya untuk jemaat Roma, rasul Paulus menjelaskan kekuatan kuasa dosa, dan juga kelemahan dan kesengsaraannya saat berada dalam kuasa dosa. Ia berkata, “di dalam batinku aku suka akan hukum Allah” (Roma 7:22). Kesukaan ini mencerminkan kebutuhan batinnya. Namun sebuah konflik batin timbul, “apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Roma 7:15). Dalam hatinya Paulus ingin melakukan yang baik, tetapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Ia meneliti dan ternyata selain kesadarannya, ada kekuatan dosa di dalam dirinya yang mencegahnya melakukan hal yang baik (Roma 7:23).

2. Dosa membelenggu manusia

Dari surat-suratnya, kita dapat membayangkan Paulus adalah seperti tentara Kristus yang memenuhi tugas penginjilan walaupun hidupnya terus menerus terancam. Orang-orang Kristen memandang tinggi Paulus sebagai teladan. Banyak tempat menggunakan namanya sebagai penghormatan. Namun dari pengakuannya dalam suratnya kepada jemaat Roma, Paulus ternyata tidak berbeda dengan kita yang seringkali bergumul dengan dosa. Mengapa kuasa dosa sangat kuat? Paulus menyatakan bahwa ia bersifat daging dan terjual sebagai budak dosa (Roma 7:14). Ia juga mengatakan kuasa kedagingannya mengalahkan dirinya sendiri (kesadarannya), yang membuatnya terbelenggu oleh kuasa dosa (Roma 7:23). Ia tidak dapat melakukan kebaikan seperti yang ia inginkan, tetapi melakukan yang jahat yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan. Bukannya ia tidak mau melakukan yang baik, tetapi kesungguhannya kalah melawan keinginan dagingnya. Ia melakukan yang jahat bukan karena kehendak hatinya, tetapi karena dosa yang tinggal di dalam dia (Roma 7:17, 20). “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (Roma 7:21). Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita betapa kuasa dosa membuat manusia tidak berdaya. Kesaksian Paulus menggambarkan keadaan kita, dan suka dukanya tercermin dalam hati kita. Mereka yang sungguh-sungguh berusaha melakukan yang baik akan mengerti bahwa mereka tidak berdaya melawan kuasa dosa. Di akhir kesaksiannya, Paulus berteriak dalam keputusasaan, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24)

3. Dosa menciptakan kekacauan di dunia

Dosa berkuasa di dunia dan merusak umat manusia sekehendak hatinya. Pertama-tama ia menyerang pribadi manusia, lalu keluarganya, lalu masyarakat di sekitarnya, dan akhirnya, seluruh dunia. Secara pribadi, dosa menghalangi kita melakukan kebaikan seperti yang kita inginkan, dan membalikkan kita melakukan yang jahat. (Roma 7:15,19). Bila dosa berkuasa atas setiap anggota keluarga, perselisihan akan terjadi dalam keluarga. Dalam skala yang besar, tidak akan ada damai di bumi selama dosa berkuasa atas umat manusia.
Sejarah menunjukkan tidak pernah ada damai di dunia sejak kelahiran bangsa-bangsa. Perang terus terjadi di antara bangsa dan negara. Dalam sebagian peperangan ini, kita telah melihat banyak pembantaian tidak masuk akal dilakukan umat manusia. Mengapa kita bukannya menolong sesama manusia, tetapi malah saling menghancurkan? Mengapa ada banyak perseteruan, pertikaian, kebencian, perkelahian, pembunuhan, kekerasan dan perang? Semua ini disebabkan oleh dosa.

B. Setiap Orang Jatuh ke Dalam Dosa

Apa yang telah kita pelajari sejauh ini adalah kita telah menjadi hamba dosa karena dosa berkuasa dalam hati kita. (Roma 5:21 7:23). Pada akhirnya dosa mengendalikan dan memperbudak kita semua (Roma 7:14, 18-20; Yohanes 8:34).

1. Dosa menjatuhkan semua orang

Tuhan Yesus berkata, “Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik” (Matius 7:18). Sebuah pohon tidak mungkin mengubah sifat alaminya. Begitu juga kita melakukan dosa karena kita tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah kecenderungan alami kita yang bersifat jahat. Betapa menyedihkannya kita yang tidak dapat berpaling dari dosa! Dosa seperti jurang yang dalam dan umat manusia terperosok dengan pasrah ke dalamnya. Tidak ada yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi orang lain.

2. Menurut standar Alkitab, semua manusia berdosa

Seseorang dapat bertanya, “perbuatan jahat seperti apa yang digolongkan sebagai dosa?” Dosa adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum Allah, atau ketidakberadaan hukum (1 Yohanes 3:4). Hukum Allah adalah Sepuluh Hukum: Jangan menyembah allah lain; jangan membuat berhala; jangan menyebut sembarangan nama Allah; ingat dan menguduskan hari Sabat; menghormati orangtua; jangan membunuh; jangan berzinah; jangan mencuri; jangan berbohong; jangan mengingini milik orang lain (Keluaran 20:3-17). Dengan standar ini saja, dapatkah seseorang dengan jujur mengakui mereka tidak bersalah dari pelanggaran hukum-hukum Allah?

Ketika Yesus Kristus datang mengajarkan firman Allah, Ia menaikkan standar yang telah ditetapkan kepada manusia. Pertama, Tuhan Yesus menyatakan sudut pandang-Nya mengenai Sepuluh Hukum. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17). Lebih lanjut Yesus mengatakan harapannya atas murid-murid-Nya, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum...” (Matius 5:21,22). Demikian pula Yesus menunjukkan bila seorang laki-laki memandang perempuan dengan hawa nafsu, ia telah berzinah dengan perempuan itu dalam hatinya (Matius 5:28). Dengan demikian Yesus menaikkan standar dengan meminta kita juga memegang hukum-Nya dalam hati, tidak hanya terbatas tindakan fisik sebuah dosa.

Selain Yesus Kristus, tidak ada orang lain di dunia yang tidak berbuat dosa dan tak bercacat cela. Dengan standar hukum undang-undang sebuah bangsa, mungkin kita warna negara yang taat hukum dan tidak pernah melanggarnya. Tetapi dengan standar firman Allah, seluruh dunia ini berada dalam kurungan dosa, dan kita semua adalah pelanggar-pelanggar hukum Allah (Galatia 3:22).

3. Manusia jatuh ke dalam berbagai bentuk dosa

Selain Sepuluh Hukum, kita tahu ada beberapa perbuatan lain yang dapat membangkitkan murka Allah. Paulus membicarakan mengenai murka Allah yang turun ke atas orang-orang fasik dan lalim, yang menindas kebenaran dengan kelaliman (Roma 1:18). Keinginan hawa nafsu dalam hati mereka membawa mereka ke dalam kecemaran seksual, seperti homoseksualitas (Roma 1:24, 26, 27). Lebih jauh lagi, “karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah”, pikiran mereka yang terkutuk menyeret mereka melakukan apa yang tidak sepatutnya dilakukan.

mereka melakukan apa yang tidak pantas:
penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. (Roma 1:29-31)

Dapat kita lihat pada ayat di atas betapa setiap hari hati kita penuh dengan pikiran yang jahat. Hal-hal sepele yang kita lakukan setiap hari – arogansi, kesombongan, bahkan juga gosip – juga digolongkan sebagai dosa. Terlepas dari Sepuluh Hukum, masih dapatkah kita mengakui diri kita belum pernah melakukan hal-hal seperti itu?

4. Manusia jatuh ke dalam dosa karena tidak mengenal Allah

Kita patut memperhatikan alasan yang ditekankan Paulus mengapa dosa ditimbulkan, adalah karena “tidak berusaha mengenal Allah”: “karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas” (Roma 1:28). Pemikiran yang berlaku di dunia ini adalah: bila tidak ada Tuhan, tidak ada hukuman untuk perbuatan dosa; dan bila tidak ada hukuman, manusia boleh melakukan apa saja tanpa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bentuk pemikiran seperti ini adalah apa yang disarankan filosofis Perancis Jean Paul Sartre. Ia beralasan bila Tuhan itu tidak ada, maka segala sesuatu boleh dilakukan.

Dalam kitab Mazmurnya raja Daud juga menyebutkan orang fasik melakukan kejahatan tanpa merasa berat hati karena mereka tidak mengenal Allah. Daud berkata, “Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: "Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!" ... Ia berkata dalam hatinya: "Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun."” (Mazmur 10:4, 6). “Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Mazmur 14:1).

5. Tidak menyembah Allah yang benar adalah jalan menuju dosa

Apakah dosa yang paling berat di dunia? Mencuri, berzinah, bersaksi dusta atau membunuh? Dosa yang paling berat adalah tidak menyembah Allah yang benar. Seperti yang telah dijelaskan Paulus, sumber segala dosa berasal dari penyangkalan akan adanya Allah. Bila umat manusia tidak mengakui Allah, maka mereka tidak dapat percaya dengan penghakiman Allah. Mereka akan berlaku sesuka mereka walaupun akibat perbuatan mereka dapat melukai orang lain. Maka kita dapat melihat hubungan yang dekat antara menyangkal keberadaan Allah dengan dosa.

Dalam Alkitab dicatat, “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13). Mengapa takut akan Allah dan memegang perintah-perintah-Nya adalah tugas kita? Itu menjadi tugas kita karena Allah menciptakan kita, dan Dia adalah Bapa seluruh umat manusia. Kita dapat mengambil contoh hubungan alami antara orangtua dengan anak. Sebagai orangtua, kita mengasuh dan memelihara anak kita dengan cinta kasih. Kita berharap anak kita menghormati dan taat kepada kita. Karena itu bila anak kita memberontak, menyangkal atau tidak menghormati kita, kita merasa sakit hati dan kecewa. Anak bebek saja menyahut dan mengikuti panggilan induknya. Maka terlebih lagi kita harus mendengarkan suara Orangtua kita.

“..takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”
(Pengkhotbah 12:13)










Jatuh Karena Dosa

Apa itu dosa? Apakah kita berdosa walaupun kita belum pernah berbuat sesuatu yang tidak benar? Sadarkah kita saat melakukan dosa? Apakah pengaruh dosa kepada kita? Darimana dosa berasal? Apakah kekuatan dosa? Apakah akibat dari dosa?

Banyak di antara kita mengerti akan makna dosa. Kata “dosa” mempunyai konotasi negatif yang kita hindari seperti penyakit kusta. Dalam arti sebenarnya, dosa adalah melawan hukum Allah dan tidak mencapai standar yang Allah gariskan. Umat manusia kehilangan kasih karunia Allah karena dosa. Menurut Alkitab, tidak hanya manusia pertama yang berdosa, tetapi semua yang datang ke dunia kemudian juga mewarisi dosa itu. Selain Tuhan kita Yesus Kristus (dibahas di bagian tiga), kita semua membawa dosa asal. Kita berdosa terlepas dari seberapa “baik”nya kita menurut standar dunia.

Mengapa kita perlu mempelajari dosa? Karena kita ada di dalam pertempuran rohani setiap hari. Jiwa kita senantiasa berada dalam bahaya. Dengan mengenal sifat sesungguhnya dari musuh kita bersama, kita dapat mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai musuh kita, sehingga kita dapat melengkapi diri kita lebih baik dengan senjata rohani yang tepat.

Bila kita membicarakan dosa, kita harus membicarakannya dalam hubungannya dengan perintah Allah.
Setelah membaca bagian ini, jangan Anda tenggelam ke dalam kengerian dan keputusasaan – masih ada harapan! Jangan biarkan bayangan dosa mengancam Anda karena kita tahu kita dapat mengalahkan dosa melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang melawan dosa. Anda dapat menemukan jawaban-jawaban bagaimana mendapatkan kemerdekaan dari belenggu dosa, dan mendapatkan harapan kehidupan kekal dalam bagian ketiga dan keempat – “Percaya Kepada Yesus” dan “Kembali ke Gereja Sejati”.

Sumber Dosa

Di masa lalu, nenek moyang kita Adam dan Hawa tinggal di taman Eden. Taman Eden adalah taman yang sangat indah, taman yang disediakan oleh Allah, pencipta dan pemelihara alam semesta. Allah mempercayakan taman Eden kepada Adam disertai dengan sebuah perintah kepadanya: jangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Allah memperingatkan akan akibat yang harus ditanggung bila melanggar perintah ini. Allah menyediakan seorang penolong bagi Adam yaitu Hawa, agar mereka dapat bersama-sama berkuasa atas seluruh ciptaan Allah. Namun pada suatu hari Adam dan Hawa jatuh ke dalam cobaan dan makan buah terlarang itu.

Ini adalah kelahiran sejarah manusia, menandai sumber dosa dan sumber segala kejahatan, dan permulaan dari kehancuran dunia.

A. Leluhur Kita Jatuh Dalam Dosa

1. Adam dan Hawa melanggar perintah Allah

Allah memberi perintah kepada Adam, nenek moyang umat manusia, ”semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan baik dan jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17). Awalnya, perintah ini adalah perintah satu-satunya yang harus dijalankan oleh manusia. Allah menetapkan perintah ini untuk menegakkan keteraturan alam semesta. Allah yang menjadikan bumi dan segala isinya adalah Allah atas langit dan bumi (Kejadian 17:24). Ia menciptakan manusia dan memelihara mereka (Kisah Para Rasul 17:26,28). Karena itu manusia harus memegang perintah yang telah Allah berikan, seperti langit juga menaati perintahNya (Mazmur 103:19-22). Namun Adam dan Hawa mendengarkan godaan Iblis, memberontak melawan perintah Allah dan memakan buah terlarang (Kejadian 3:1-6). Karena pelanggaran ini, nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa.

2. Adam dan Hawa tidak menaati perintah Allah

Seseorang mungkin bertanya, “mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan baik dan jahat? Bila Ia tidak menciptakannya, Adam dan Hawa mungkin tidak jatuh ke dalam dosa.” Kita dapat berasumsi sumber kejatuhan Adam dan Hawa berasal dari pohon itu. Tetapi sumber dosa yang paling mendasar berasal dari keengganan manusia mematuhi perintah Allah. Bila Adam dan Hawa mau patuh kepada Allah, mereka akan menahan diri dan tidak memakan buah terlarang. Sebaliknya, bila mereka bersikap membangkang melawan kehendak Allah, mereka akan jatuh dalam dosa lain selain memakan buah terlarang. Paulus menulis, “hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, ...dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat” (1 Timotius 1:9-10).

3. Adam dan Hawa menuruti keinginan hawa nafsu

Allah berkata, “Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu” (Kejadian 1:29). “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas” (Kejadian 2:16). Dari dua ayat ini, tampak jelas Adam dan Hawa mendapatkan cukup makanan. Mereka tidak membutuhkan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka memakan buah terlarang itu bukan karena suatu kebutuhan, tetapi karena keinginan hawa nafsu. “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya” (Kejadian 3:6). Alkitab menjelaskan bagaimana Adam dan Hawa tidak dapat menyalahkan siapa-siapa atas pelanggaran ini selain mereka sendiri. “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa...” (Yakobus 1:14, 15).

B. Dosa Memasuki Dunia

Bagaimana dosa Adam mempengaruhi kita? Alkitab mengatakan “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang ... karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).
“Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang” (Roma 5:12)

1. Dosa masuk ke dalam dunia

karena satu orang
Yang dimaksud ”satu orang” di sini adalah Adam. Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, belum ada dosa di dunia. Ketika Adam jatuh, dosa masuk ke dalam dunia dan menjadi bagian dari sifat manusia. Keturunan Adam mewarisi kecenderungan dosa ini dan dosa mulai mendominasi hati umat manusia (Roma 5:12). Karena itulah “semua orang telah berbuat dosa”.
Dalam hukum genetika, kita tahu sifat-sifat dari binatang dan tanaman diwariskan kepada keturunannya. Tipe yang baik, begitu juga yang buruk, akan diturunkan ke generasi berikutnya. Contohnya, generasi kedua dari pohon anggur yang asam akan sama asamnya. Seperti itu pula, begitu Adam dan Hawa berbuat dosa, sifat dosa mereka diturunkan kepada keturunan mereka, dan dengan cara inilah dosa masuk ke dalam dunia.

2. Manusia berdosa sejak dilahirkan

Alkitab lebih jauh menggambarkan sifat warisan dosa dengan menjelaskan tahap-tahap awal pertumbuhan manusia: dalam kandungan, kelahiran, dan masa kecil.
“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7)

“Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.”
(Mazmur 58:4)

“...yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya.” (Kejadian 8:21)

Kita tidak perlu menunggu sampai dewasa untuk mengenal dosa. Kita sudah terjerat dalam pikiran-pikiran yang jahat sejak masa muda dan tersesat dari sejak hari kita dilahirkan. Perbedaannya terdapat pada keseriusan dosa yang dilakukan orang dewasa dan anak-anak. Dosa-dosa yang dilakukan orang dewasa lebih besar dan rumit karena pengertian, pengetahuan dan pengalaman mereka lebih tinggi, sementara dosa-dosa yang dilakukan anak-anak tampak lebih polos karena mereka belum matang dalam segala hal. Walaupun demikian, dosa tetaplah dosa, entah itu besar atau kecil. Ini lebih jauh menunjukkan sifat dosa yang turun-temurun. Dosa yang diperbuat Adam dan Hawa melemparkan umat manusia ke dalam jurang yang dalam tanpa ada harapan akan penebusan.













Sunday, 20 April 2014

Menyembah-Nya dalam roh

... Bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Tuhan itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. (Yohanes 4:23-24)

Ayat Alkitab di atas memberitahu kita bahwa Allah yang sejati menghendaki kita menyembah Dia dalam roh dan bukan dengan kemenyan, lilin, buah-buahan, daging, kue atau benda-benda pengorbanan lain. Manusia di dunia memiliki tubuh jasmani dan membutuhkan makanan untuk mempertahankan hidup mereka. Sedangkan Allah yang sejati adalah Roh yang tidak perlu memerlukan makan. Dan seandainya Ia membutuhkan makanan pun, Ia tidak perlu meminta manusia untuk memberi-Nya makan.
Allah berfirman melalui pemazmur:

Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. Jika Aku lapar tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.
(Mazmur 50:10-12)

Paulus mengatakan kata-kata yang tidak jauh berbeda kepada orang-orang Atena:
Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak akan diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
(Kisah Para Rasul 17:24-25)

Janganlah kita tertipu dan mempercayai bahwa kita harus mempersembahkan benda-benda tertentu untuk dapat memperoleh perkenanan Allah. Allah ada di mana-mana (maha hadir); Allah mengetahui segala sesuatu (maha tahu); Allah mampu melakukan segala sesuatu (maha kuasa); karena itu, Ia mengetahui hati kita. Yang diminta Allah dari kita adalah agar kita menyembah-Nya dengan hati yang tulus dan mempersembahkan doa dalam roh.

Allah yang maha kuasa

4000 tahun yang lalu, Allah yang sejati menampakkan diri kepada Abraham, bapa leluhur orang Israel, dan berfirman kepadanya, “Akulah Allah yang Mahakuasa” (Kejadian 17:1).

Ayub juga membicarakan tentang kemahakuasaan Allah, “Aku tahu, bahwa Engkau (Allah) sanggup melakukan segala sesuatu” (Ayub 42:2). Akan tetapi, karena Iblis ingin membujuk kita meninggalkan Allah yang sejati, maka ia seringkali melakukan tanda-tanda mujizat melalui patung-patung berhala (tuhan-tuhan palsu).

Meskipun demikian, kuasa Iblis terbatas dan tidak akan dapat mengalahkan Allah yang sejati. Beberapa contoh berikut ini dimaksudkan untuk memberikan sedikit gambaran tentang hal ini:


  • 3600 tahun yang lalu, Allah yang sejati memilih Musa untuk memimpin orang Israel keluar dari Mesir. Allah menghendaki Firaun tahu bahwa Ia menyertai Musa. Ia memerintahkan Musa mengubah tongkat yang dipegang kakaknya, Harun, menjadi ular di depan mata Firaun. Firaun segera memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihirnya untuk melakukan hal yang sama, tetapi tongkat Harun menelan semua tongkat mereka (Keluaran 7:8-12).
  • 2900 tahun yang lalu, orang-orang Israel mengikuti raja Ahab menyembah patung Baal. Allah yang sejati mengutus nabi Elia untuk menemui Ahab. Elia mengumpulkan orang-orang Israel dan nabi-nabi Baal di gunung Karmel untuk membuktikan yang manakah Allah yang sejati. Untuk membuktikannya, baik Elia dan nabi-nabi palsu harus menyembelih seekor lembu jantan, memotong-motongnya, meletakkannya di atas mezbah dan masing-masing memanggil “tuhan”nya. “Tuhan” yang menjawab dengan api, dialah Allah yang sejati. Dari pagi hingga malam, nabi-nabi Baal memanggil-manggil dan melakukan ritual mereka; mereka bahkan menoreh-noreh diri sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Namun tidak terjadi apa-apa. Ketika Elia berdoa, turunlah api dari Allah yang sejati dan menyambar habis seluruh korban bakaran. Ketika semua orang melihatnya, sujudlah mereka dan berkata, “TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!” (1Raj. 18:17-39).
  • 1900 tahun yang lalu, seseorang bernama Simon membuat takjub bangsa Samaria dengan ilmu sihirnya. Ketika Filipus, seorang murid Tuhan, memberitakan Injil di sana, Allah melakukan banyak tanda-tanda heran melalui dirinya, agar orang-orang yang percaya kepada Kristus mendapatkan kesembuhan dari penyakit mereka. Orang banyak yang semula begitu takjub kepada Simon, kini meninggalkannya dan percaya kepada Injil yang diberitakan Filipus. Bahkan Simon sendiri akhirnya menjadi percaya dan mengikuti Filipus (Kisah Para Rasul 8:9-13).
Oleh sebab itu kita harus berhati-hati dengan banyak “agama” yang hari ini begitu menonjolkan kuasa ajaib. Ilmu sihir manusia, patung berhala, atau roh-roh jahat, semua dapat melakukan “tanda-tanda mujizat” yang memukau. Akan tetapi kita harus menguji sumber kuasa-kuasa ini dan juga niat di balik tanda mujizat tersebut. Kuasa Allah jauh lebih besar daripada segala kehidupan di dunia dan juga di alam semesta. Maksud dari penyataan kuasa-Nya adalah untuk memimpin manusia percaya kepada-Nya dan menerima keselamatan.

Allah yang memenuhi alam semesta

“Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN,
dan bukan Allah yang dari jauh juga?” (Yeremia 23:23)

Raja Daud juga membicarakan ke-mahahadiran Allah, yaitu kemampuan-Nya untuk hadir di segala tempat pada waktu yang sama:
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, Ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; Jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau; Jika aku terbang dengan sayap fajar dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.”
(Mazmur 139:7-10)

Karena itu, Allah yang sejati, yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, adalah Allah yang memenuhi alam semesta (Efesus 1:23; Yeremia 23:24). Ia berfirman, “Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?” (Yesaya 66:1). Demikian pula, ketika Paulus berada di Atena, ibukota Yunani, ia memberitahu orang-orang Atena bahwa “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya. Ia, yang adalah Allah atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia” (Kisah Para Rasul 17:24).

Ayat-ayat Alkitab di atas memberi kesimpulan bahwa tuhan-tuhan yang berada di kuil duniawi bukanlah Allah yang sejati. Patung-patung berhala buatan manusia tidak dapat memberi berkat ataupun kutuk, dan mereka tidak patut disembah. Kita tidak sepatutnya memuja mereka.
Allah yang sejati itu maha hadir; Ia tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Karena itu kita dapat menyembah-Nya di mana saja, kapan saja.

Allah yang kekal

Lebih dari 3000 tahun yang lalu, ketika Allah memilih Musa untuk memimpin orang-orang Israel keluar dari Mesir, Ia menyebut diri-Nya sebagai "AKU ADALAH AKU" (Keluaran 3:14). Ia menyebut diri-Nya demikian karena Ia tidak diciptakan oleh tangan manusia dan Ia pun tidak dilahirkan melalui hasil pembuahan manusia. Ia kekal dan ada dengan sendirinya – tanpa awal maupun akhir. Allah yang menciptakan alam semesta adalah "AKU" dan satu-satunya Allah yang sejati.

Kita dapat membagi tuhan-tuhan yang disembah oleh manusia di dunia dalam tujuh kategori untuk membandingkannya dengan Allah yang sejati:

  • Benda-benda angkasa (matahari, bulan, bintang-bintang)
  • Gunung
  • Sungai
  • Bebatuan dan logam (mineral)
  • Binatang
  • Pepohonan dan tumbuh-tumbuhan
  • Manusia

Ketujuh kategori di atas merupakan ciptaan; mereka adalah yang diciptakan dan bukan pencipta. Mereka tidak ada dengan sendirinya dan dengan demikian tidak pantas diperlakukan sebagai tuhan untuk kita sembah.

Di antara segala makhluk yang Allah ciptakan, manusia adalah yang paling berakal budi sehingga ia berkuasa atas semua makhluk yang lain. Mengapa makhluk yang lebih berakal budi malah menyembah makhluk-makhluk yang lebih rendah atau bahkan yang tidak berakal budi? Di sepanjang sejarah, kita juga menemukan orang-orang yang menyembah manusia lainnya karena prestasinya yang besar. Tetapi, kita manusia hanyalah makhluk-makhluk yang tidak dapat memilih untuk dilahirkan atau tidak ke dalam dunia ini. Kita memiliki awal dan akhir – kelahiran dan kematian. Tak ada seorang pun yang dapat menyatakan “saya hidup kekal”. Karena itu, kita tidak seharusnya menyembah seorang manusia sebagai tuhan. Memang benar, di dunia ini ada individu-individu yang mungkin telah memberikan kontribusi yang begitu besar bagi kemanusiaan, namun mereka tetap seorang manusia biasa. Setinggi-tingginya mereka hanya pantas untuk tetap dikenang dan dijadikan sebagai teladan. Tetapi tak satu pun dari orang-orang ini ataupun ciptaan lainnya pantas untuk disembah sebagai tuhan.

Siapakah Allah yang Sejati?

Pertama-tama kita perlu meyakini bahwa Tuhan sungguh-sungguh ada, sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang siapakah Dia.

Sebelumnya kita telah membuktikan dari berbagai sumber bahwa Tuhan itu sungguh ada. Mari kita mengulangnya sedikit:

  • Dia adalah pencipta alam semesta
  • Dia adalah pengendali sistem tata surya dan seluruh jagat raya
  • Dia menempatkan naluri untuk menyembah-Nya dalam hati nurani manusia
  • Dia adalah pencipta dan penopang kehidupan
  • Dia menggenapi nubuat menjadi kenyataan
  • Dia melakukan tanda mujizat
  • Dia tinggal dalam hati manusia dan membuat manusia dapat berkata-kata dalam bahasa roh melalui Roh Kudus

Sebenarnya siapakah Allah? Ketika kita bertanya tentang seseorang, maka biasanya kita berharap mendapatkan beberapa latar belakang pribadi yang membedakannya dari orang lain. Biasanya kita berharap mendapatkan informasi seperti apakah orang itu masih memiliki hubungan saudara dengan si anu, apakah orang tersebut bekerja di tempat anu, atau orang tersebut telah melakukan sesuatu yang istimewa.

Demikian pula, jika kita ingin mengetahui siapakah Allah, kita berharap dapat mempelajari latar belakang-Nya ataupun karakteristik yang membedakan-Nya dari yang lain.
Berikut ini adalah karakteristik Allah yang sejati. Dengan mengetahuinya, kita dapat lebih jelas memahami siapakah Dia.

  • Ia adalah Allah yang kekal
  • Ia adalah Allah yang memenuhi seluruh alam semesta
  • Ia adalah Allah yang maha kuasa
  • Ia menghendaki kita menyembah-Nya dalam roh

Allah menyatakan diri-Nya melalui Roh Kudus

Manusia memiliki roh manusia, sedangkan Allah memiliki Roh Allah, yaitu Roh Kudus. Meskipun kita tidak dapat melihat Allah, kita mengetahui akan adanya Tuhan melalui pengalaman kita sendiri atau dengan menyaksikan pengalaman orang lain saat berdoa dalam Roh Kudus. Seperti apakah rasanya menerima Roh Kudus?

Alkitab mencatatkan, ketika Petrus sedang memberitakan Injil di rumah Kornelius, Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan (Kisah Para Rasul 10:44). Bagaimana Petrus tahu Roh Kudus sudah dicurahkan ke atas mereka? Alkitab kemudian memberitahu kita bahwa mereka mendengar orang-orang itu “berkata-kata dalam bahasa roh” (Kisah Para Rasul 10:46). Karena itu, kita dapat memastikan apakah seseorang memiliki Roh Kudus, dengan mendengarkan apakah ia berkata-kata dalam bahasa roh atau tidak.

“Berkata-kata dalam bahasa roh” merupakan bukti bahwa seseorang telah menerima Roh Kudus, dan Roh Kudus merupakan bukti akan keberadaan Tuhan. Itu sebabnya Alkitab mengatakan, “karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman” (1 Korintus 14:22).

Ini berarti berkata-kata dalam bahasa roh adalah bukti bagi orang yang tidak percaya untuk mengetahui bahwa Roh Allah dapat turun ke atas manusia. Bagi orang yang telah percaya, Allah memberikan suatu petunjuk yang lebih nyata: “Dan demikianlah kita ketahui bahwa Tuhan ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yohanes 3:24).

Pencurahan Roh Kudus pada masa hujan akhir telah memimpin pekerjaan pendirian Gereja Yesus Sejati. Banyak jemaat dalam gereja kami telah menerima Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa roh, sama seperti pengalaman yang telah dialami oleh para rasul, menjadi saksi akan kepastian Alkitab.

Seperti yang dicatatkan dalam Kitab Kisah Para Rasul, Roh Kudus turun ke atas rasul-rasul untuk pertama kali di hari Pentakosta (Bacalah Kisah Para Rasul 2). Pada hari itu, banyak peristiwa aneh terjadi. Orang-orang Yahudi yang melihat dan mendengar murid-murid dipenuhi oleh Roh Kudus, menyangka mereka sedang mabuk. Sejak saat itulah gereja pertama mulai berakar dan bertumbuh. Roh Kudus bekerja dengan begitu hebat di antara mereka dengan tanda-tanda mujizat yang mengherankan. Hasilnya, beribu-ribu orang datang percaya kepada Tuhan.

Dari tanda-tanda mujizat kita mengetahui akan adanya Tuhan

Tanda mujizat adalah perbuatan dari kekuatan gaib (supernatural).
Allah yang menciptakan alam semesta adalah Allah yang Mahakuasa (Kejadian 17:1). Walaupun kita tidak dapat melihat ataupun merabaNya, Ia menggunakan tanda-tanda mujizat untuk membuktikan keberadaanNya, memimpin manusia untuk menyembah dan percaya kepadaNya.

Contohnya, lebih dari 3000 tahun yang lalu, Ia menurunkan sepuluh tulah demi membebaskan orang-orang Israel dari tangan bangsa Mesir (Keluaran 7-12). Untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran tentara Mesir, Allah membelah Laut Merah supaya mereka dapat menyeberang di atas tanah yang kering (Keluaran 14:10-31). Demi menyelamatkan orang-orang Israel dari mati kelaparan di padang gurun, Ia menurunkan manna dari langit selama empat puluh tahun dengan tidak henti-hentinya (Keluaran 16:35; Nehemia 9:20-21).

Selain dari tanda-tanda mujizat di atas, Alkitab masih mencatatkan banyak tanda-tanda mujizat dalam Kitab Perjanjian Lama. Semua peristiwa ini melampaui daya kuasa manusia.

Di masa Perjanjian Baru, melalui rasul-rasul-Nya Allah melakukan tanda-tanda mujizat seperti mengusir setan dan menyembuhkan berbagai jenis penyakit, agar semua yang masuk ke dalam Kristus dapat memperoleh damai sejahtera (Kisah Para Rasul 3:2-8; 5:12-16; 8:5-8; 14:8-18; 16:16-18; 19:11-12).

Demikian pula, tanda-tanda mujizat yang serupa dengan Gereja masa awal masih terjadi dalam Gereja Yesus Sejati hari ini. Sejak didirikan, Allah telah melakukan banyak tanda-tanda mujizat dan mengubah kehidupan ribuan jemaat. Allah menggunakan hamba-hambaNya dan jemaat untuk menyembuhkan penyakit, mengubah peristiwa alam, mengubah pemikiran manusia, membuat orang dapat melihat berbagai penglihatan, dan melakukan banyak perbuatan ajaib termasuk membangkitkan orang mati. Semua kuasa ajaib ini datang dari tangan satu-satunya Allah yang sejati.

Dari penggenapan nubuat-nubuat dalam Alkitab kita mengetahui akan adanya Tuhan

"Yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan."
(Yesaya 46:10)

Ayat Alkitab ini memberitahu kita bahwa Allah mampu menunjukkan suatu peristiwa sebelum peristiwa tersebut terjadi. Kita dapat melihat dari contoh-contoh berikut bahwa Allah menggenapi setiap nubuat menurut firman-Nya.


  • Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan dilahirkan oleh seorang perawan (Yesaya 7:14). Tujuh ratus tahun kemudian, perawan Maria melahirkan Yesus Kristus (Matius 1:18-23).
  • Mikha menubuatkan bahwa Mesias akan  dilahirkan di Betlehem (Mikha 5:1). Tujuh ratus tahun kemudian, Yesus Kristus dilahirkan di Betlehem (Matius 2:1-11).
  • Raja Daud menubuatkan bahwa Mesias  akan menanggung rasa sakit yang mengerikan dan orang-orang jahat akan menusuk kedua tangan dan kaki-Nya (Mazmur 22:13-19). Seribu tahun sesudah Raja Daud, Yesus Kristus mati dengan kedua tangan serta kaki-Nya dipakukan ke kayu salib (Yohanes 19:17-18,37).
Selain nubuat-nubuat tentang Yesus yang dinyatakan di atas, berikut ini adalah beberapa nubuat tentang Israel:


  • Nabi Yeremia telah sejak awal  memperingatkan tentang Nebukadnezar, raja Babel, yang akan menyatakan perang terhadap Yerusalem. Orang-orang Babel akan menghancurkan Bait Suci dan memperbudak orang-orang Yahudi. Setelah 70 tahun masa penawanan, orang-orang Yahudi akan dibebaskan dan mereka akan kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci mereka (Yeremia 25:9-12; 29:10). Dan sungguh, pada tahun 606 SM, orang-orang Babel menawan orang-orang Yahudi. Pada tahun 536 SM, Koresy raja Persia mengizinkan orang-orang Yahudi pulang ke negeri asal mereka (2 Tawarikh 36:17-23; Ezra 1:1-5).
  • Orang-orang Israel seringkali  membunuh para nabi dan bahkan menolak penyelamatan yang ditawarkan Kristus. Oleh sebab perkara ini, Yesus menubuatkan tentang penghancuran Yerusalam; orang-orang Yahudi akan kehilangan negaranya dan tercerai-berai (Matius 23:27-38; 24:1-2). Akan tetapi, setelah tiba saatnya, Allah masih akan mengasihani mereka dan mengumpul mereka kembali dari segala pelosok dunia ke negeri mereka untuk membangun kembali negara Israel yang baru (Yehezkiel 39:28-29). Menurut catatan-catatan sejarah, bangsa Roma mengepung Yerusalem pada tahun 70 M, dan telah menghancurkan Kota Suci hingga rata dengan taNahum Pada tahun 1948 M, kira-kira setelah 2000 tahun, Israel secara ajaib bangkit dan sekali lagi menjadi sebuah negara.
Contoh-contoh di atas hanya merupakan sebagian kecil dari begitu banyak nubuat dalam Kitab Suci. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat meramalkan masa depan dengan sedemikian akurat dan melalui rentang waktu yang begitu panjang. Inilah mengapa umat Kristen memandang Allah sebagai Yang Mahatahu; yaitu, Dia mengetahui segala sesuatu.


Dari keberadaan kehidupan kita mengetahui akan adanya Tuhan

Keberadaan kehidupan itu sendiri dapat membuat seseorang merenungkan pertanyaan tentang Tuhan. Kita tidak datang ke dalam dunia ini menurut kemauan sendiri.
Kita tak tahu kapan kita akan menutup mata untuk yang terakhir kali, kecuali bila kita bunuh diri.
Dan lagi, kita pun tak tahu dari mana sumber segala kehidupan ini muncul

Kehidupan adalah suatu misteri. Ia adalah sesuatu yang tidak berwujud – kita tidak dapat melihat, mendengar ataupun meraba "kehidupan". Akan tetapi, kehadirannya dapat dibuktikan dalam semua makhluk hidup.

Jika kita mengatakan bahwa makananlah yang memberikan kita khasiat untuk menyokong kehidupan, lalu mengapa kita begitu berbeda satu sama lain walaupun kita memakan makanan yang sama? Bukankah semua makhluk hidup seperti tanaman, serangga, dan binatang memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap makanan yang sama?

Bila kita memberikan pupuk dan air yang sama kepada dua jenis tanaman, maka yang satu akan menghasilkan bunga mawar sedangkan yang lain akan menghasilkan bunga bakung. Jadi, apakah yang membuat hati kita berdetak dan darah kita mengalir, atau yang membuat tunas-tunas berkecambah dan bunga-bungaan berbunga?

Kehidupan memancarkan energi. Bila kehidupan tinggal dalam suatu organisme, ia akan terus memancarkan energi dan mengalir melalui sistem metabolisme. Bila kehidupan meninggalkan suatu organisme, maka semua aktivitasnya akan berhenti sama sekali. Organisme itu akan mengalami pembusukan dan akhirnya kembali menjadi debu taNahum Dari manakah energi ini berasal?

Kehidupan menyatakan berbagai keajaiban. Semua makhluk hidup dapat tumbuh besar dan bereproduksi dalam kondisi-kondisi yang semestinya. Sedangkan, mesin-mesin buatan manusia tidak dapat tumbuh besar ataupun menggandakan diri sekalipun diberikan bahan bakar yang banyak sekali. Manusia mungkin dapat membinasakan kehidupan dengan menggunakan kekerasan. Namun dengan menggunakan teknologi yang tercanggih, para ilmuwan hari ini masih belum berhasil menciptakan kehidupan. Demikian pula para dokter dunia medis, dengan peralatan zaman ruang angkasa dan data yang terkini, tidak dapat mempertahankan hidup seseorang sampai selama-lamanya.

Kehadiran kehidupan adalah suatu misteri dan melampaui pengertian kita yang terbatas. Hanya Allah saja yang dapat memecahkan berbagai misteri tentang kehidupan. Dia adalah yang Mahatahu. PengetahuanNya jauh melampaui apa yang dapat kita ketahui dengan segala kemampuan kita yang terbatas. Alkitab memberitahu kita bahwa, “di dalam tangan-Nya (tangan Allah) terletak nyawa segala yang hidupdan nafas setiap manusia” (Ayub 12:10).

Tepatnya inilah sebabnya mengapa kita perlu mengetahui tentang Tuhan, terlebih di dunia ini. Bila kita ingin memahami tentang diri kita dan segala sesuatu di sekeliling kita, maka kita harus datang kepada sumber segala kehidupan – Allah.

Para pembaca yang terkasih, cobalah renungkan perkara ini: Di manakah sumber kehidupan dari segala makhluk hidup jika tidak ada Allah yang menciptakan serta memelihara kehidupan?




Dari naluri manusia untuk menyembah Tuhan kita mengetahui akan adanya Tuhan

Di sepanjang sejarah, para penjelajah telah menemukan berbagai kebudayaan yang terisolasi, tidak pernah bersentuhan dengan dunia luar. Namun, setiap suku atau bangsa ini masing-masing memiliki bentuk penyembahan kepada sesuatu yang dianggap tuhan ataupun sekumpulan dewa-dewi.

Sekalipun kita berbeda kewarganegaraan, suku bangsa, kebudayaan, atau cara melakukan penyembahan, namun ada satu persamaan di antara kita semua – kita semua memiliki naluri untuk menyembah sesuatu yang dianggap tuhan. Mengapa demikian? Alkitab memberitahu kita, "Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka" (Roma 1:19). Dengan kata lain, Allah telah menanamkan naluri alami di dalam setiap manusia untuk menyembah-Nya.

Sebagian orang tidak percaya adanya Tuhan karena mereka telah dipengaruhi oleh bentuk pendidikan yang tidak semestinya sehingga telah membutakan mereka untuk sementara waktu, tidak dapat melihat kebenaran. Jadi bukan karena Allah tidak memberikan mereka naluri untuk menyembah-Nya.

Kita dapat melihat bahwa banyak dari mereka yang tidak percaya kepada Tuhan akan secara tiba-tiba menyerukan nama Tuhan apabila suatu bencana besar menimpa mereka. Pada saat itulah seorang manusia akan menyadari kekuatannya yang terbatas. Nalurinyaakan berseru meminta pertolongan kepada Pengendali dari segala sesuatu; sekalipun bibirnya tidak mengakui keberadaan Yang Mahakuasa.

Dari sistem tata surya kita mengetahui akan adanya Tuhan

Para ilmuwan memberitahu kita bahwa benda-benda angkasa memiliki orbit tetap dan frekuensi pergerakannya masing-masing, yang tidak pernah terlambat satu detik pun dalam pergerakannya, dan satu sama lain selamanya tak akan bertabrakan.

Selain itu, perubahan pada empat musim serta fenomena alam lainnya, bukanlah secara kebetulan berada dalam keadaan yang teratur. Ini adalah karena Allah Yang Mahakuasa "menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" (Ibrani 1:3).

Pada persimpangan jalan raya, ada lampu lalu lintas atau polisi lalu lintas yang mengatur agar lalu lintas berjalan dengan tertib. Di alam semesta yang begitu maha luas ini, bagaimanakah keteraturan ini dapat terjadi bila tidak ada yang menjaga agar segala sesuatunya berjalan dengan semestinya? Hal ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Yang paling pantas untuk menjadi pengendali alam semesta ini haruslah yang memiliki pengetahuan yang sempurna atas segala sesuatu yang ada di dalamnya.

 Dan siapakah yang lebih mengetahuinya daripada Dia yang menciptakannya? Lalu, selain daripada Allah, adakah orang yang pernah menyatakan dirinya sebagai arsitek dari alam semesta ini? Tidak ada. Hanya Alkitab saja yang membuat pernyataan seperti ini: “Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, – Dialah Allah – yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, – dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami – : ‘Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain’” (Yesaya 45:18).

Dari pembentukan alam semesta kita mengetahui akan adanya Tuhan

“Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah.”(Ibrani 3:4)

Ayat Alkitab ini memberitahukan kita bahwa sebuah rumah yang kecil pun ada yang membangunnya; apalagi matahari, bulan, bintang-bintang dan segala makhluk hidup di bumi. Tidakkah mereka juga ada yang membangun atau menciptakannya? Tingkat kerumitan dalam menciptakan segala makhluk hidup dan segala isi alam semesta ini melebihi membangun sebuah rumah.

Karena itu, seorang rasul Yesus berkata: “Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya – kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya – dapat nampak kepadapikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1:20).

Ketepatan Ilmiah dalam Alkitab tentang Alam Semesta & Bumi

1. Bumi berbentuk bulat.
"Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi..."(Yesaya 40:22)
Pada tahun 700 SM, seorang nabi Ibrani bernama Yesaya mengutarakan apa yang tidak diketahui manusia hingga abad kelima belas. Sebelum mengenal kompas, dan pelayaran Columbus serta Magellan, orang percaya bahwa bumi berbentuk datar.

2. Bumi bergantungan di ruang angkasa tanpa penyangga.
"Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan."
(Ayub 26:7)
Kenyataan ilmiah ini ditemukan oleh Sir Isaac Newton pada tahun 1678 M. Akan tetapi, kitab Ayub kemungkinan telah ditulis sebelum tahun 1500 SM. Dan salah satu pandangan orang umum pada masa itu adalah bahwa bumi ini datar dan berada di atas punggung seekor penyu yang sangat besar, yang sedang berenang secara perlahan-lahan mengarungi sebuah lautan besar.Adakah Tuhan?

3. Jumlah bintang yang tidak terhitung.
"...Cobalah lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menhitungnya ...demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Kejadian 15:5)
Alkitab juga menunjukkan bahwa jumlah keturunan Abraham adalah seperti debu tanah di bumi (Kejadian 13:16; Yeremia 33:22; Ibrani 11:12). Karena itu, secara tidak langsung Allah menyatakan bahwa keturunan Abraham akan sama seperti bintang-bintang di langit atau pasir lautan yang tidak terhitung banyaknya.
Ptolemy, seorang ahli astronomi terkenal, pada tahun 150 SM menyatakan bahwa jumlah bintang-bintang adalah tepat 1,056.

4. Terdapat gunung-gunung dan jurang di dalam lautan.
"Lalu kelihatanlah dasar-dasar laut..."
(2 Samuel 22:16)
[Red: Terjemahan Alkitab Inggris versi NIV: “Lalu kelihatanlah lembah-lembah lautan...” (“The valleys of the sea were exposed...”)]
"Aku tenggelam ke dasar bumi..."
(Yunus 2:6)
[Red: Terjemahan Alkitab Inggris versi NIV: “Aku tenggelam ke dasar gunung-gunung...” (“To the roots of the mountains I sank down...”)]

Sejak dahulu, hingga kira-kira satu abad yang lalu, manusia membayangkan lautan ini adalah seperti sebuah mangkuk raksasa yang berisi air. Mereka percaya bahwa dasar lautan melandai dari garis pantai hingga ke tengah, di mana bagian tengah ini adalah yang terdalam. Kemudian, orang berpikir bahwa dasar lautan akan terus meninggi hingga ke sisi sebrang. Namun, sudah sejak tahun 1015 SM, penulis kitab Samuel menggambarkan lautan sebagaimana yang kita ketahui saat ini – di dalamnya terdapat gunung-gunung dan lembah.

5. Segala makhluk hidup berkembang biak menurut jenisnya masing-masing.
"Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap ...Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar..."(Kejadian 1:21,24)

Teori generasi spontan dari Aristoteles pada tahun 350 SM telah mendominasi dunia ilmu pengetahuan hingga berabad-abad kemudian. Mereka berargumentasi bahwa telur-telur berbagai binatang tingkat rendah seperti serangga, adalah berasal dari substansi-substansi yang membusuk. Katak dan makhluk kecil laut lainnya berasal dari kolam-kolam lumpur. Barulah pada 1862 Louis Pasteur membuktikan bahwa teori generasi spontan ini tidak benar.

Adakah Tuhan

Teori Evolusi Darwin telah menyebabkan banyak cendekiawan tidak lagi mengakui keberadaan Tuhan, atau setidaknya menolak konsep Kristen tentang Tuhan. Namun dalam ketergesaan pernyataan mereka bahwa Tuhan sudah mati, kebanyakan dari mereka tidak mempertimbangkan butir-butir berikut yang justru memberikan dukungan kuat akan keberadaan Tuhan:

  • Pembentukan alam semesta
  • Sistem tata surya
  • Naluri manusia untuk menyembah Allah
  • Kehadiran kehidupan
  • Penggenapan nubuat-nubuat dalam Alkitab
  • Tanda-tanda mujizat
  • Pencurahan Roh Kudus


Tangga Menuju Surga, Menyembah Allah yang Sejati

Ketika kita menapaki jalan kehidupan, kita semua bergerak menuju ke arah-arah tertentu. Terkadang di tengah perjalanan kita menemui penghalang jalan ataupun jalan memutar. Adakala pula kita terpaksa harus mendaki gunung atau bukit, menyeberang sungai ataupun mengarungi lautan. Namun, baik jalan apapun yang kita ambil, kita semua akan berakhir di satu tujuan akhir yang sama – kematian. Kebanyakan orang takut menghadapi titik akhir perjalanan tersebut, karena mereka menganggapnya sebagai kesudahan dari segala sesuatu yang telah mereka usahakan sepanjang hidup. Walaupun demikian, ada sebagian orang yang justru menanti-nantikan tibanya “Hari Akhir yang Besar” itu. Ini karena mereka sedang berada di sebuah tangga yang menuntun mereka ke suatu tempat indah yang disebut Surga. Adakah Anda berada di tangga yang menuju Surga itu?


MENYEMBAH ALLAH YANG SEJATI 

Bila ada orang yang mengeluarkan pernyataan yang begitu memaksa seperti: “setiap orang perlu menyembah Tuhan yang Sejati”, maka tanggapan pertama yang Anda berikan mungkin: “apa benar setiap orang harus menyembah-Nya? Mengapa?” Lalu dalam hati Anda akan berpikir: “apa maksud Anda dengan mengatakan 'Tuhan yang Sejati'? Apakah berarti ada tuhan yang palsu?” Atau mungkin Anda hanya bertanya, “baiklah, tapi sebelumnya tolong jawab dulu, siapakah sebenarnya Tuhan itu?”


Pertanyaan-pertanyaan yang sederhana ini mewakili beberapa dari pertanyaan yang paling mendasar tentang makna kehidupan. Mengenal Tuhan berarti kita memiliki jawaban atas sumber dari segala kehidupan dan alasan dari keberadaan kita.

Bila Anda adalah seorang yang sedang mencari Tuhan, yang sedang mencoba untuk mencari siapa dan apakah Dia, maka ini adalah tempat yang baik untuk mengawalinya. Bila Anda adalah seorang Kristen, lanjutkanlah membaca dan Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang walau sudah sering Anda dengar, namun apa yang disajikan di sini akan menantang Anda untuk memikirkan kembali apa yang telah Anda ketahui hari ini.