1. Hukuman mati bagi semua yang berdosa
“engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:19). Ini adalah hukuman mati yang dinyatakan Allah kepada Adam dan Hawa dan seluruh umat manusia. Allah telah menyatakannya dengan sangat jelas kepada manusia pertama, “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Adam tidak mengenal maut di Taman Eden. Tetapi setelah Adam dan Hawa melakukan dosa dengan memakan buah terlarang, maut masuk ke dalam dunia. “Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya. Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi..” (Pengkhotbah 5:15-16). Maut sama pastinya dengan kehidupan.2. Tidak ada manusia yang berkuasa atas kematian
Khayalan kehidupan kekal bukan barang baru bagi kita. Ada banyak mitos dan dongeng menceritakan umat manusia dalam pencarian mereka akan kehidupan kekal. Hari ini, ternyata kita ada dalam pencarian yang lain. Meskipun kita telah menerima –dengan tidak rela – bahwa kelak kita akan mati, kita berusaha keras memperpanjang waktu kita di bumi selama mungkin. Kita memperhatikan pola makan, berolahraga, dan mengandalkan pengobatan modern. Kita tidak menyadari bahwa tidak ada manusia yang berkuasa atas kendali kehidupan dan kematian selain Allah. Maut dapat turun menjamah Anda dengan tiba-tiba dan tidak terduga, karena di dalam tangan Allah-lah nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia (Ayub 12:10).“Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian” (Pengkhotbah 8:8). Dunia adalah sebuah medan pertempuran tanpa akhir, dan hidup adalah peperangan yang berlarut-larut. Dalam tahun-tahun kehidupan di bumi, kita harus berjuang untuk hidup, berperang melawan bencana dan penderitaan, melawan kejahatan dan maut. Musuh kita yang paling keji adalah maut, karena belum ada manusia yang dapat menaklukannya. Orang kaya, orang perkasa, bahkan raja Salomo tidak dapat melarikan diri dari cengkeraman kematian.
3. Sejak Adam jatuh dalam dosa, semua orang mati dalam roh
Selain mati secara jasmani, kita harus menyadari adanya kematian rohani. “Kematian roh” adalah “terpisah dari kehidupan Allah”, yang berarti tidak mempunyai kehidupan rohani (Efesus 4:18). Kebalikan dari kematian tubuh jasmani yang terjadi di akhir kehidupan, kita mati dalam roh bahkan sebelum kita dilahirkan.“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Ini berarti Adam akan mati pada hari ia memakan buah terlarang. Tetapi secara jasmani Adam tetap hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian (Kejadian 5:3-5). Ini bukan berarti firman Allah tidak digenapi, tetapi yang dimaksudkan dengan kata “pastilah engkau mati” adalah kematian roh. Begitu Adam memakan buah terlarang, roh-nya terpisah dari kehidupan Allah. Adam dan Hawa terputus dari jalan menuju pohon kehidupan – yaitu kehidupan kekal. Paulus menyebutkan kematian roh waktu ia berkata, “..semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam” (1 Korintus 15:22). Karena itulah semua keturunan Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai kehidupan rohani.
3. Sejak Adam jatuh dalam dosa, semua orang mati dalam roh
Selain mati secara jasmani, kita harus menyadari adanya kematian rohani. “Kematian roh” adalah “terpisah dari kehidupan Allah”, yang berarti tidak mempunyai kehidupan rohani (Efesus 4:18). Kebalikan dari kematian tubuh jasmani yang terjadi di akhir kehidupan, kita mati dalam roh bahkan sebelum kita dilahirkan.
“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:17). Ini berarti Adam akan mati pada hari ia memakan buah terlarang. Tetapi secara jasmani Adam tetap hidup hingga beberapa ratus tahun kemudian (Kejadian 5:3-5). Ini bukan berarti firman Allah tidak digenapi, tetapi yang dimaksudkan dengan kata “pastilah engkau mati” adalah kematian roh. Begitu Adam memakan buah terlarang, roh-nya terpisah dari kehidupan Allah. Adam dan Hawa terputus dari jalan menuju pohon kehidupan – yaitu kehidupan kekal. Paulus menyebutkan kematian roh waktu ia berkata, “..semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam” (1 Korintus 15:22). Karena itulah semua keturunan Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai kehidupan rohani.
“Sengat maut adalah dosa” (1 Korintus 15:56). Maut menggunakan sengat dosa untuk mengikat semua orang berdosa dalam dunia, sehingga mereka tidak dapat mengalahkan dosa dan tidak mampu menaklukkan maut. Mereka ditakdirkan mati begitu mereka dilahirkan. Mereka tidak hanya mati rohani karena Adam, tetapi kehidupan jasmani mereka juga pasti berakhir. “Upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12)
No comments:
Post a Comment