A. Kekuatan Kuasa Dosa
1. Dosa berkuasa atas umat manusia
Dalam suratnya untuk jemaat Roma, rasul Paulus menjelaskan kekuatan kuasa dosa, dan juga kelemahan dan kesengsaraannya saat berada dalam kuasa dosa. Ia berkata, “di dalam batinku aku suka akan hukum Allah” (Roma 7:22). Kesukaan ini mencerminkan kebutuhan batinnya. Namun sebuah konflik batin timbul, “apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Roma 7:15). Dalam hatinya Paulus ingin melakukan yang baik, tetapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Ia meneliti dan ternyata selain kesadarannya, ada kekuatan dosa di dalam dirinya yang mencegahnya melakukan hal yang baik (Roma 7:23).2. Dosa membelenggu manusia
Dari surat-suratnya, kita dapat membayangkan Paulus adalah seperti tentara Kristus yang memenuhi tugas penginjilan walaupun hidupnya terus menerus terancam. Orang-orang Kristen memandang tinggi Paulus sebagai teladan. Banyak tempat menggunakan namanya sebagai penghormatan. Namun dari pengakuannya dalam suratnya kepada jemaat Roma, Paulus ternyata tidak berbeda dengan kita yang seringkali bergumul dengan dosa. Mengapa kuasa dosa sangat kuat? Paulus menyatakan bahwa ia bersifat daging dan terjual sebagai budak dosa (Roma 7:14). Ia juga mengatakan kuasa kedagingannya mengalahkan dirinya sendiri (kesadarannya), yang membuatnya terbelenggu oleh kuasa dosa (Roma 7:23). Ia tidak dapat melakukan kebaikan seperti yang ia inginkan, tetapi melakukan yang jahat yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan. Bukannya ia tidak mau melakukan yang baik, tetapi kesungguhannya kalah melawan keinginan dagingnya. Ia melakukan yang jahat bukan karena kehendak hatinya, tetapi karena dosa yang tinggal di dalam dia (Roma 7:17, 20). “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (Roma 7:21). Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita betapa kuasa dosa membuat manusia tidak berdaya. Kesaksian Paulus menggambarkan keadaan kita, dan suka dukanya tercermin dalam hati kita. Mereka yang sungguh-sungguh berusaha melakukan yang baik akan mengerti bahwa mereka tidak berdaya melawan kuasa dosa. Di akhir kesaksiannya, Paulus berteriak dalam keputusasaan, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24)3. Dosa menciptakan kekacauan di dunia
Dosa berkuasa di dunia dan merusak umat manusia sekehendak hatinya. Pertama-tama ia menyerang pribadi manusia, lalu keluarganya, lalu masyarakat di sekitarnya, dan akhirnya, seluruh dunia. Secara pribadi, dosa menghalangi kita melakukan kebaikan seperti yang kita inginkan, dan membalikkan kita melakukan yang jahat. (Roma 7:15,19). Bila dosa berkuasa atas setiap anggota keluarga, perselisihan akan terjadi dalam keluarga. Dalam skala yang besar, tidak akan ada damai di bumi selama dosa berkuasa atas umat manusia.Sejarah menunjukkan tidak pernah ada damai di dunia sejak kelahiran bangsa-bangsa. Perang terus terjadi di antara bangsa dan negara. Dalam sebagian peperangan ini, kita telah melihat banyak pembantaian tidak masuk akal dilakukan umat manusia. Mengapa kita bukannya menolong sesama manusia, tetapi malah saling menghancurkan? Mengapa ada banyak perseteruan, pertikaian, kebencian, perkelahian, pembunuhan, kekerasan dan perang? Semua ini disebabkan oleh dosa.
B. Setiap Orang Jatuh ke Dalam Dosa
Apa yang telah kita pelajari sejauh ini adalah kita telah menjadi hamba dosa karena dosa berkuasa dalam hati kita. (Roma 5:21 7:23). Pada akhirnya dosa mengendalikan dan memperbudak kita semua (Roma 7:14, 18-20; Yohanes 8:34).1. Dosa menjatuhkan semua orang
Tuhan Yesus berkata, “Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik” (Matius 7:18). Sebuah pohon tidak mungkin mengubah sifat alaminya. Begitu juga kita melakukan dosa karena kita tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah kecenderungan alami kita yang bersifat jahat. Betapa menyedihkannya kita yang tidak dapat berpaling dari dosa! Dosa seperti jurang yang dalam dan umat manusia terperosok dengan pasrah ke dalamnya. Tidak ada yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi orang lain.2. Menurut standar Alkitab, semua manusia berdosa
Seseorang dapat bertanya, “perbuatan jahat seperti apa yang digolongkan sebagai dosa?” Dosa adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum Allah, atau ketidakberadaan hukum (1 Yohanes 3:4). Hukum Allah adalah Sepuluh Hukum: Jangan menyembah allah lain; jangan membuat berhala; jangan menyebut sembarangan nama Allah; ingat dan menguduskan hari Sabat; menghormati orangtua; jangan membunuh; jangan berzinah; jangan mencuri; jangan berbohong; jangan mengingini milik orang lain (Keluaran 20:3-17). Dengan standar ini saja, dapatkah seseorang dengan jujur mengakui mereka tidak bersalah dari pelanggaran hukum-hukum Allah?Ketika Yesus Kristus datang mengajarkan firman Allah, Ia menaikkan standar yang telah ditetapkan kepada manusia. Pertama, Tuhan Yesus menyatakan sudut pandang-Nya mengenai Sepuluh Hukum. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17). Lebih lanjut Yesus mengatakan harapannya atas murid-murid-Nya, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum...” (Matius 5:21,22). Demikian pula Yesus menunjukkan bila seorang laki-laki memandang perempuan dengan hawa nafsu, ia telah berzinah dengan perempuan itu dalam hatinya (Matius 5:28). Dengan demikian Yesus menaikkan standar dengan meminta kita juga memegang hukum-Nya dalam hati, tidak hanya terbatas tindakan fisik sebuah dosa.
Selain Yesus Kristus, tidak ada orang lain di dunia yang tidak berbuat dosa dan tak bercacat cela. Dengan standar hukum undang-undang sebuah bangsa, mungkin kita warna negara yang taat hukum dan tidak pernah melanggarnya. Tetapi dengan standar firman Allah, seluruh dunia ini berada dalam kurungan dosa, dan kita semua adalah pelanggar-pelanggar hukum Allah (Galatia 3:22).
3. Manusia jatuh ke dalam berbagai bentuk dosa
Selain Sepuluh Hukum, kita tahu ada beberapa perbuatan lain yang dapat membangkitkan murka Allah. Paulus membicarakan mengenai murka Allah yang turun ke atas orang-orang fasik dan lalim, yang menindas kebenaran dengan kelaliman (Roma 1:18). Keinginan hawa nafsu dalam hati mereka membawa mereka ke dalam kecemaran seksual, seperti homoseksualitas (Roma 1:24, 26, 27). Lebih jauh lagi, “karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah”, pikiran mereka yang terkutuk menyeret mereka melakukan apa yang tidak sepatutnya dilakukan.mereka melakukan apa yang tidak pantas:
penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. (Roma 1:29-31)
Dapat kita lihat pada ayat di atas betapa setiap hari hati kita penuh dengan pikiran yang jahat. Hal-hal sepele yang kita lakukan setiap hari – arogansi, kesombongan, bahkan juga gosip – juga digolongkan sebagai dosa. Terlepas dari Sepuluh Hukum, masih dapatkah kita mengakui diri kita belum pernah melakukan hal-hal seperti itu?
4. Manusia jatuh ke dalam dosa karena tidak mengenal Allah
Kita patut memperhatikan alasan yang ditekankan Paulus mengapa dosa ditimbulkan, adalah karena “tidak berusaha mengenal Allah”: “karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas” (Roma 1:28). Pemikiran yang berlaku di dunia ini adalah: bila tidak ada Tuhan, tidak ada hukuman untuk perbuatan dosa; dan bila tidak ada hukuman, manusia boleh melakukan apa saja tanpa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bentuk pemikiran seperti ini adalah apa yang disarankan filosofis Perancis Jean Paul Sartre. Ia beralasan bila Tuhan itu tidak ada, maka segala sesuatu boleh dilakukan.Dalam kitab Mazmurnya raja Daud juga menyebutkan orang fasik melakukan kejahatan tanpa merasa berat hati karena mereka tidak mengenal Allah. Daud berkata, “Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: "Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!" ... Ia berkata dalam hatinya: "Aku takkan goyang. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun."” (Mazmur 10:4, 6). “Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Mazmur 14:1).
5. Tidak menyembah Allah yang benar adalah jalan menuju dosa
Apakah dosa yang paling berat di dunia? Mencuri, berzinah, bersaksi dusta atau membunuh? Dosa yang paling berat adalah tidak menyembah Allah yang benar. Seperti yang telah dijelaskan Paulus, sumber segala dosa berasal dari penyangkalan akan adanya Allah. Bila umat manusia tidak mengakui Allah, maka mereka tidak dapat percaya dengan penghakiman Allah. Mereka akan berlaku sesuka mereka walaupun akibat perbuatan mereka dapat melukai orang lain. Maka kita dapat melihat hubungan yang dekat antara menyangkal keberadaan Allah dengan dosa.Dalam Alkitab dicatat, “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13). Mengapa takut akan Allah dan memegang perintah-perintah-Nya adalah tugas kita? Itu menjadi tugas kita karena Allah menciptakan kita, dan Dia adalah Bapa seluruh umat manusia. Kita dapat mengambil contoh hubungan alami antara orangtua dengan anak. Sebagai orangtua, kita mengasuh dan memelihara anak kita dengan cinta kasih. Kita berharap anak kita menghormati dan taat kepada kita. Karena itu bila anak kita memberontak, menyangkal atau tidak menghormati kita, kita merasa sakit hati dan kecewa. Anak bebek saja menyahut dan mengikuti panggilan induknya. Maka terlebih lagi kita harus mendengarkan suara Orangtua kita.
“..takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”
(Pengkhotbah 12:13)
No comments:
Post a Comment