Banyak di antara kita mengerti akan makna dosa. Kata “dosa” mempunyai konotasi negatif yang kita hindari seperti penyakit kusta. Dalam arti sebenarnya, dosa adalah melawan hukum Allah dan tidak mencapai standar yang Allah gariskan. Umat manusia kehilangan kasih karunia Allah karena dosa. Menurut Alkitab, tidak hanya manusia pertama yang berdosa, tetapi semua yang datang ke dunia kemudian juga mewarisi dosa itu. Selain Tuhan kita Yesus Kristus (dibahas di bagian tiga), kita semua membawa dosa asal. Kita berdosa terlepas dari seberapa “baik”nya kita menurut standar dunia.
Mengapa kita perlu mempelajari dosa? Karena kita ada di dalam pertempuran rohani setiap hari. Jiwa kita senantiasa berada dalam bahaya. Dengan mengenal sifat sesungguhnya dari musuh kita bersama, kita dapat mempunyai pengertian yang lebih baik mengenai musuh kita, sehingga kita dapat melengkapi diri kita lebih baik dengan senjata rohani yang tepat.
Bila kita membicarakan dosa, kita harus membicarakannya dalam hubungannya dengan perintah Allah.
Setelah membaca bagian ini, jangan Anda tenggelam ke dalam kengerian dan keputusasaan – masih ada harapan! Jangan biarkan bayangan dosa mengancam Anda karena kita tahu kita dapat mengalahkan dosa melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang melawan dosa. Anda dapat menemukan jawaban-jawaban bagaimana mendapatkan kemerdekaan dari belenggu dosa, dan mendapatkan harapan kehidupan kekal dalam bagian ketiga dan keempat – “Percaya Kepada Yesus” dan “Kembali ke Gereja Sejati”.
Sumber Dosa
Di masa lalu, nenek moyang kita Adam dan Hawa tinggal di taman Eden. Taman Eden adalah taman yang sangat indah, taman yang disediakan oleh Allah, pencipta dan pemelihara alam semesta. Allah mempercayakan taman Eden kepada Adam disertai dengan sebuah perintah kepadanya: jangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Allah memperingatkan akan akibat yang harus ditanggung bila melanggar perintah ini. Allah menyediakan seorang penolong bagi Adam yaitu Hawa, agar mereka dapat bersama-sama berkuasa atas seluruh ciptaan Allah. Namun pada suatu hari Adam dan Hawa jatuh ke dalam cobaan dan makan buah terlarang itu.Ini adalah kelahiran sejarah manusia, menandai sumber dosa dan sumber segala kejahatan, dan permulaan dari kehancuran dunia.
A. Leluhur Kita Jatuh Dalam Dosa
1. Adam dan Hawa melanggar perintah Allah
Allah memberi perintah kepada Adam, nenek moyang umat manusia, ”semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan baik dan jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17). Awalnya, perintah ini adalah perintah satu-satunya yang harus dijalankan oleh manusia. Allah menetapkan perintah ini untuk menegakkan keteraturan alam semesta. Allah yang menjadikan bumi dan segala isinya adalah Allah atas langit dan bumi (Kejadian 17:24). Ia menciptakan manusia dan memelihara mereka (Kisah Para Rasul 17:26,28). Karena itu manusia harus memegang perintah yang telah Allah berikan, seperti langit juga menaati perintahNya (Mazmur 103:19-22). Namun Adam dan Hawa mendengarkan godaan Iblis, memberontak melawan perintah Allah dan memakan buah terlarang (Kejadian 3:1-6). Karena pelanggaran ini, nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa.2. Adam dan Hawa tidak menaati perintah Allah
Seseorang mungkin bertanya, “mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan baik dan jahat? Bila Ia tidak menciptakannya, Adam dan Hawa mungkin tidak jatuh ke dalam dosa.” Kita dapat berasumsi sumber kejatuhan Adam dan Hawa berasal dari pohon itu. Tetapi sumber dosa yang paling mendasar berasal dari keengganan manusia mematuhi perintah Allah. Bila Adam dan Hawa mau patuh kepada Allah, mereka akan menahan diri dan tidak memakan buah terlarang. Sebaliknya, bila mereka bersikap membangkang melawan kehendak Allah, mereka akan jatuh dalam dosa lain selain memakan buah terlarang. Paulus menulis, “hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, ...dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat” (1 Timotius 1:9-10).3. Adam dan Hawa menuruti keinginan hawa nafsu
Allah berkata, “Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu” (Kejadian 1:29). “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas” (Kejadian 2:16). Dari dua ayat ini, tampak jelas Adam dan Hawa mendapatkan cukup makanan. Mereka tidak membutuhkan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka memakan buah terlarang itu bukan karena suatu kebutuhan, tetapi karena keinginan hawa nafsu. “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya” (Kejadian 3:6). Alkitab menjelaskan bagaimana Adam dan Hawa tidak dapat menyalahkan siapa-siapa atas pelanggaran ini selain mereka sendiri. “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa...” (Yakobus 1:14, 15).B. Dosa Memasuki Dunia
Bagaimana dosa Adam mempengaruhi kita? Alkitab mengatakan “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang ... karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12).“Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang” (Roma 5:12)
1. Dosa masuk ke dalam dunia
karena satu orangYang dimaksud ”satu orang” di sini adalah Adam. Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, belum ada dosa di dunia. Ketika Adam jatuh, dosa masuk ke dalam dunia dan menjadi bagian dari sifat manusia. Keturunan Adam mewarisi kecenderungan dosa ini dan dosa mulai mendominasi hati umat manusia (Roma 5:12). Karena itulah “semua orang telah berbuat dosa”.
Dalam hukum genetika, kita tahu sifat-sifat dari binatang dan tanaman diwariskan kepada keturunannya. Tipe yang baik, begitu juga yang buruk, akan diturunkan ke generasi berikutnya. Contohnya, generasi kedua dari pohon anggur yang asam akan sama asamnya. Seperti itu pula, begitu Adam dan Hawa berbuat dosa, sifat dosa mereka diturunkan kepada keturunan mereka, dan dengan cara inilah dosa masuk ke dalam dunia.
2. Manusia berdosa sejak dilahirkan
Alkitab lebih jauh menggambarkan sifat warisan dosa dengan menjelaskan tahap-tahap awal pertumbuhan manusia: dalam kandungan, kelahiran, dan masa kecil.“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7)
“Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.”
(Mazmur 58:4)
“...yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya.” (Kejadian 8:21)
Kita tidak perlu menunggu sampai dewasa untuk mengenal dosa. Kita sudah terjerat dalam pikiran-pikiran yang jahat sejak masa muda dan tersesat dari sejak hari kita dilahirkan. Perbedaannya terdapat pada keseriusan dosa yang dilakukan orang dewasa dan anak-anak. Dosa-dosa yang dilakukan orang dewasa lebih besar dan rumit karena pengertian, pengetahuan dan pengalaman mereka lebih tinggi, sementara dosa-dosa yang dilakukan anak-anak tampak lebih polos karena mereka belum matang dalam segala hal. Walaupun demikian, dosa tetaplah dosa, entah itu besar atau kecil. Ini lebih jauh menunjukkan sifat dosa yang turun-temurun. Dosa yang diperbuat Adam dan Hawa melemparkan umat manusia ke dalam jurang yang dalam tanpa ada harapan akan penebusan.
No comments:
Post a Comment